Sejak Kang Bupati Sugiri Sancoko berinisiatif untuk menghidupkan kembali seni pertunjukan tradisional Kethoprak, popularitasnya di Ponorogo perlahan meningkat. Pada hari Minggu, 17 Agustus 2025, sebuah pertunjukan besar digelar di Desa Bajang sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi ke-529 Kabupaten Ponorogo dan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
Pertunjukan tersebut menampilkan Paguyuban Seniman Kethoprak Tobong dengan lakon yang berjudul Damarwulan Mantu. Acara ini dibuka langsung oleh Kang Bupati Sugiri Sancoko sendiri yang mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya daerah. Ia menyatakan, "Sedaya cangcut tali wondo nguripne ketoprak, kita berbudaya kanti sae," yang artinya kita harus berupaya keras agar seni tradisional ini tetap hidup dan berkembang.
Malam itu, suasana di desa Bajang penuh dengan tawa dan kekaguman. Penonton terlihat menikmati dialog-dialog lucu khas ketoprak yang sering diselingi banyolan dan humor. Alur cerita yang mengandung unsur politik, kekuasaan, dan asmara membuat penonton terpukau dan terbawa suasana.
Lakon Damarwulan Mantu mengisahkan tentang kisah di akhir zaman Majapahit. Damarwulan, tokoh utama yang digambarkan sebagai pengurus kuda yang sederhana tetapi berjiwa besar, harus menghadapi berbagai konflik dan tantangan. Cerita ini bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga kisah cinta yang penuh intrik.
Akhir cerita yang bahagia menampilkan Damarwulan yang mampu mengalahkan Minakjinggo, menjaga keberlangsungan kerajaan Majapahit, dan akhirnya mempersunting Ratu Kencono Wungu. Pertunjukan ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat yang hadir, menunjukkan bahwa seni tradisional seperti Kethoprak masih memiliki tempat di hati masyarakat dan tetap relevan di zaman modern ini.
Kethoprak Ponorogo Sugiri Sancoko seni tradisional budaya Damarwulan acara adat pertunjukan seni budaya Indonesia