Dalam situasi yang semakin tegang di Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tampaknya berupaya keras untuk mengubah aturan main di panggung politik baik di dalam negeri maupun internasional. Ia menggunakan kekerasan sebagai alat utama untuk menekan semua bentuk perlawanan dari rakyat Palestina. Tujuannya sangat jelas: menghapuskan aspirasi nasional Palestina tanpa memandang biaya yang harus dikeluarkan.
Selama 22 bulan terakhir, konflik di Gaza telah menjadi pusat perhatian dunia. Namun, respons dari pemimpin Palestina, Mahmud Abbas, justru cukup menyakitkan. Ia menyebut Hamas, kelompok yang berkuasa di Gaza, sebagai 'anjing'. Ironisnya, Abbas tetap menjalankan kerja sama keamanan dengan Israel dan mengabaikan upaya Israel untuk melemahkan ekonomi Palestina dan menyebabkan keruntuhan pemerintahan mereka.
Di tengah ketidakpastian ini, Netanyahu tampaknya berusaha lebih dari sekadar mempertahankan kekuasaannya atau melawan Hamas. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada lagi yang menyebutkan Palestina sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Ia berusaha mematikan semua aspirasi nasional Palestina agar tidak lagi ada harapan akan kemerdekaan.
Sementara itu, di dunia internasional, ada perdebatan tentang pengakuan terhadap negara Palestina. Beberapa negara Barat yang sebelumnya mendukung Palestina, kini mulai ragu karena kekhawatiran akan konflik yang berkepanjangan. Mereka tahu bahwa pengakuan ini bisa menjadi alat diplomasi, tapi juga bisa memperumit situasi.
Di kalangan pendukung Palestina sendiri, muncul kritik terhadap upaya negara-negara Barat dan Arab yang mencoba menghindar dari solusi yang adil, seperti pembentukan negara dua bangsa. Mereka merasa bahwa pendekatan ini tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.
Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini, tidak ada jaminan bahwa situasi saat ini akan bertahan selamanya. Kepemimpinan Palestina dan hubungan mereka dengan Israel bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, yang pasti, Netanyahu dan para pendukungnya beranggapan bahwa perang ini akan membawa harga yang sangat tinggi, dan mereka siap membayar apapun demi menghancurkan aspirasi nasional Palestina."
Netanyahu Palestina Gaza politik internasional kekerasan aspirasi nasional