Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Gaza dan Palestina: Kritik Terhadap Dukungan Internasional yang Tak Berubah

Gaza menghadapi kelaparan yang dibuat-buat, namun alih-alih menghentikan pengepungan atau menekan para pembuat kebijakan yang melakukan pengepungan, negara-negara Barat malah berusaha menganggap masalah ini sebagai 'negara virtual' yang tidak nyata. Mereka lebih suka menggunakan kata-kata daripada tindakan nyata. Gestur-gestur mereka tidak membawa keadilan, malah menutupi kenyataan yang sebenarnya.

Negara-negara seperti Perancis, Inggris, dan Jerman tetap memberikan senjata kepada Israel. Dukungan politik mereka terhadap Israel sangat kuat, karena mereka merasa Israel berhak untuk ada. Padahal, di saat yang sama, hak orang Palestina untuk hidup sedang diabaikan dan diancam.

Tidak ada perubahan besar yang terjadi, hanya kata-kata yang berbeda. Aliran senjata, dana, dan kebohongan terus mengalir. Jika negara-negara Barat benar-benar mempercayai bahwa Palestina berhak memiliki negara sendiri, mereka harus menghentikan dukungan militer, keuangan, dan diplomatik yang mendukung sistem apartheid dan pendudukan.

Pengakuan terhadap Palestina tanpa konsekuensi nyata hanyalah langkah mundur dari kebenaran. Kita sudah melihat permainan ini sebelumnya. Proses yang tidak pernah berujung ini sebenarnya dirancang agar tidak pernah mencapai hasil nyata. Bahkan di Gaza, negosiasi tampaknya hanya sebagai kedok. Pada Januari lalu, ada peluang untuk gencatan senjata, tetapi Israel memecahkannya pada bulan Maret tanpa konsekuensi apapun. Mereka kembali ke pembicaraan sambil terus melakukan pembersihan etnis dan berbicara tentang 'Gaza Yahudi'.

Presiden Macron dan pemimpin Inggris, Keir Starmer, berbicara tentang negara Palestina, namun mereka tetap membiayai penghapusan Palestina. Mereka menawarkan 'pengakuan' yang sebenarnya tidak berarti apa-apa—hanya penundaan. Apa yang mereka tawarkan bukanlah kedaulatan, melainkan simbolisme yang nyaman untuk menenangkan kemarahan publik dan mempertahankan pendudukan.

Namun, sebuah negara yang hanya ada di atas kertas dan harus disetujui oleh pendudukan bukanlah sebuah negara. Itu hanyalah kebohongan. Pengakuan tanpa tindakan nyata bukanlah diplomasi, melainkan kejahatan bersama.

Situasi di Gaza dan Palestina menunjukkan bahwa kita perlu lebih dari sekadar kata-kata. Dunia harus bertindak nyata, bukan hanya berjanji dan memberi dukungan yang tidak nyata.

library_books Middleeasteye