Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menikmati hiburan, termasuk suara musik yang meriah. Beberapa orang bahkan merasa senang dengan adanya sound horeg, di mana mereka dapat berjoget, menyanyi, dan menikmati suasana. Namun, dalam Islam, setiap tindakan harus dipertimbangkan dengan baik, terutama mengenai kemaslahatan bagi diri sendiri dan orang lain.
Islam mengajarkan kita untuk selalu menimbang setiap tindakan. Apakah tindakan itu membawa kebaikan bagi banyak orang atau justru mengganggu kedamaian? Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra: 36). Dari ayat ini, kita bisa belajar bahwa setiap hal yang kita lakukan, terutama yang berhubungan dengan hiburan, harus didasari oleh pengetahuan dan pertimbangan yang matang.
Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadis: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Malik dan Ahmad). Hal ini menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan dampak dari tindakan kita terhadap orang lain. Ketika kita bersenang-senang, kita juga harus memastikan bahwa kebahagiaan kita tidak mengganggu orang lain di sekitar kita.
Dalam hal suara, Islam mengajarkan etika dan adab. Luqman yang bijak pernah menasihati anaknya agar tidak meninggikan suara, karena “seburuk-buruk suara adalah suara keledai” (QS Luqman: 19). Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga suara kita agar tetap sopan dan tidak mengganggu orang lain. Suara yang terlalu keras atau tidak pantas dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi orang lain.
Sebab, sebaik-baik amal adalah yang membawa manfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita. Dalam konteks hiburan, kita dapat menciptakan suasana yang menyenangkan tanpa harus mengganggu ketenangan orang lain. Dengan demikian, hiburan yang kita hadirkan dapat menjadi berkah bagi semua.
Ustadz Arifin mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang cara kita bersenang-senang. “Mari kita hadirkan hiburan yang beradab, kegembiraan yang penuh berkah, dan suasana yang menenangkan,” ujarnya. “Karena sejatinya, kemuliaan seorang Muslim adalah saat kehadirannya menjadi rahmat, bukan sumber keluhan.”
Dengan demikian, mari kita jadikan hiburan tidak hanya sebagai sarana kesenangan, tetapi juga sebagai media untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian di sekitar kita.
Islam hiburan adab suara kemaslahatan