Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, mengungkapkan bahwa jumlah guru inklusi di Indonesia masih jauh dari ideal. Hal ini terutama disebabkan oleh banyaknya siswa yang merupakan anak-anak dengan autisme, yang memerlukan perhatian khusus dari para guru.
Menurut MY Esti Wijayanti, idealnya satu guru untuk satu siswa yang memiliki autisme. Namun, saat ini mayoritas murid di kelas inklusi adalah anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya autis. "Maka, memang dirasa ada kekurangan guru," ujarnya.
Kekurangan ini menjadi perhatian serius, karena anak-anak dengan kebutuhan khusus memerlukan metode pengajaran yang berbeda. Jika tidak ada cukup guru yang terlatih, maka pendidikan yang mereka terima bisa terhambat.
MY Esti Wijayanti juga menekankan pentingnya adanya peluang pendaftaran untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya untuk guru inklusi. Hal ini bertujuan untuk mengisi kekosongan jumlah guru yang ada. Ia berharap pemerintah, terutama kementerian terkait, dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap masalah ini.
Dengan menambah jumlah guru inklusi yang terlatih, diharapkan anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pendidikan inklusi adalah sistem pendidikan yang mengizinkan semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, untuk belajar bersama di lingkungan yang sama. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan autisme dan kebutuhan khusus lainnya dapat berkembang dengan baik.
Sebagai masyarakat, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendukung pendidikan yang merata dan adil bagi semua anak, tanpa terkecuali.
guru inklusi anak autis DPR RI pendidikan ASN