Pada bulan Mei lalu, Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata dengan kelompok Houthi, sebuah milisi yang didukung Iran dan berbasis di Yaman. Setelah gencatan senjata ini, Uni Eropa (EU) mendapat kesempatan untuk menunjukkan kekuatan mereka sendiri di kawasan Laut Merah.
EU sedang menjalankan operasi yang disebut Operation Aspides untuk mengembalikan kelancaran pengiriman laut di daerah tersebut. Hal ini dilakukan setelah jumlah pengiriman menurun drastis akibat serangan-serangan yang dilakukan oleh Houthi sejak bulan Oktober 2023.
Namun, Operation Aspides tidak dapat memberikan perlindungan yang cukup ketika dua kapal dagang, yaitu Magic Seas dan Eternity C, diserang oleh Houthi pada awal bulan Juli. Kedua kapal tersebut dikelilingi, ditembak, dan akhirnya tenggelam.
Proses penyelamatan untuk kedua kapal tersebut harus dilakukan oleh kapal-kapal swasta atau perusahaan keamanan, karena Operation Aspides tidak memiliki kapal di area tersebut. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh Uni Eropa dalam menjaga jalur perdagangan mereka melalui Laut Merah.
Serangan-serangan ini menunjukkan betapa rentannya jalur perdagangan di kawasan Laut Merah, yang merupakan salah satu jalur penting bagi pengiriman barang internasional. Uni Eropa kini harus memikirkan strategi yang lebih baik untuk melindungi perdagangan mereka agar tetap aman di tengah ancaman yang terus ada dari Houthi.
Houthi Laut Merah EU serangan kapal perdagangan