Sejak akhir Juni, Eropa mengalami gelombang panas yang hebat, yang dikenal sebagai "Hitzedom". Menurut tim peneliti dari Imperial College London dan London School of Hygiene & Tropical Medicine, gelombang panas ini telah mengakibatkan sekitar 2.300 kematian di dua belas kota besar di Eropa.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 kematian dihubungkan langsung dengan suhu yang lebih tinggi akibat pemanasan iklim. Peneliti memperkirakan bahwa suhu di kota-kota tersebut seharusnya lebih rendah hingga 4 derajat Celsius jika bukan karena emisi CO2 yang disebabkan oleh manusia.
Kota-kota yang diteliti mencakup London, Paris, Frankfurt, Zagreb, Budapest, Athena, Roma, Milan, Sassari, Barcelona, Madrid, dan Lisbon. Dari kota-kota ini, Milan mencatat hampir 320 kematian akibat pemanasan iklim, diikuti oleh Barcelona dengan 286, Paris dengan 235, dan London dengan 171. Di Frankfurt, terdapat 21 kematian.
Selain fokus pada kematian akibat panas, studi tersebut juga mencatat berbagai dampak lainnya akibat perubahan iklim, seperti peningkatan jumlah rawat inap di rumah sakit, penutupan sekolah, kehilangan hari kerja, penutupan pembangkit nuklir, dan meningkatnya kebakaran lahan karena vegetasi yang kering akibat panas.
Penyebab utama dari gelombang panas ini adalah keberadaan area tekanan tinggi di Eropa Barat yang membawa udara panas dan kering, yang kemudian menyebar ke arah timur dan membawa udara panas dari Afrika Utara ke Eropa. Tim peneliti juga menjelaskan bahwa kondisi meteorologis seperti ini akan semakin sering terjadi dan lebih parah akibat perubahan iklim.
Menurut informasi yang diperoleh, Eropa adalah benua yang paling cepat memanas selama musim panas, dengan jumlah kematian akibat panas yang semakin meningkat. Penelitian ini menunjukkan pentingnya memahami dampak pemanasan iklim dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi emisi CO2 demi kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Hitzewelle Europa Klimaerwärmung Todesfälle Studie