JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan mengenai potensi gangguan operasional penerbangan akibat fenomena kemarau basah yang sedang terjadi di Indonesia. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat ini baru sekitar 30% wilayah Indonesia yang memasuki musim kemarau, meskipun secara normal seharusnya lebih dari 60% wilayah telah mengalami musim ini.
Pernyataan ini disampaikan pada hari Senin, 7 Juli 2025. BMKG mengungkapkan bahwa hujan masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga menyebabkan apa yang disebut sebagai kemarau basah.
BMKG memperkirakan bahwa curah hujan di banyak daerah di Indonesia akan tetap tinggi, bahkan di atas normal, hingga bulan Agustus sampai Oktober. Hal ini disebabkan oleh dinamika atmosfer dan tingkat kelembapan udara yang masih cukup tinggi.
Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG, Achadi Subarkah Raharjo, menjelaskan beberapa fenomena cuaca yang perlu diwaspadai oleh para penyelenggara penerbangan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Angin kencang: Angin dengan kecepatan di atas 25 knot (46 km/jam) bisa menjadi tanda adanya windshear, yaitu perubahan kecepatan angin yang berbahaya saat pesawat mendarat.
BMKG juga merekomendasikan agar semua pihak terkait, termasuk penyelenggara bandara, petugas pengatur lalu lintas udara (ATC), dan maskapai penerbangan, untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan ramalan cuaca dari otoritas meteorologi setempat. Hal ini penting untuk memastikan keselamatan penerbangan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Dengan informasi ini, diharapkan semua pihak dapat lebih waspada dan siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi akibat fenomena kemarau basah ini.
BMKG kemarau basah penerbangan cuaca visibilitas