Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Kritik Terhadap Teori Hugo Mercier dan Dan Sperber Tentang Alasan

Hugo Mercier dan Dan Sperber, dalam buku mereka yang berjudul The Enigma of Reason, mencoba mengubah cara kita memahami alasan. Mereka mengkritik banyak pemikiran filosofis yang telah ada selama berabad-abad, dengan menyatakan bahwa tujuan utama dari alasan bukan untuk menemukan kebenaran, tetapi untuk memenangkan argumen dalam konteks sosial.

Mereka menjelaskan bahwa alasan yang kita gunakan berasal dari interaksi sosial. Menurut mereka, persepsi kita membentuk intuisi yang kemudian membentuk pandangan kita. Ketika pandangan berbeda muncul, argumen digunakan bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk meyakinkan orang lain. Dalam pandangan mereka, alasan lebih mirip dengan cermin yang memantulkan bias kita, daripada alat pencari kebenaran.

Namun, kritik terhadap teori ini muncul ketika mereka menyajikan bukti yang tidak terlalu kuat. Mereka menggunakan contoh seperti alkimia Newton dan analisis tulisan tangan Dreyfus sebagai simbol dari kejeniusan yang tersesat. Mereka juga menganggap para ilmuwan di luar komunitas peer-review sebagai nabi yang tidak rasional. Namun, mereka tidak mempertanyakan apakah kelompok bisa menciptakan karya seni yang luar biasa, seperti Kapel Sistina, atau apakah demokrasi bisa menciptakan karya sastra yang hebat seperti King Lear karya Shakespeare.

Mereka tidak membahas tentang pentingnya pemikir tunggal yang berjuang dengan ide-ide mereka sendiri. Dalam konteks ini, mereka mengutip kartu pos Heisenberg dari Heligoland, seolah-olah itu membuktikan bahwa pikiran memerlukan kerumunan untuk berkembang.

Kemudian, ada keraguan dalam logika yang mereka gunakan. Mereka ingin menunjukkan bahwa alasan yang dibentuk oleh banyak pikiran akan membawa kita lebih dekat kepada kebenaran. Namun, mereka juga berpendapat bahwa alasan berkembang bukan untuk menemukan kebenaran, tetapi untuk meyakinkan orang lain tentang apa yang sudah kita rasakan. Jadi, apa sebenarnya yang mereka maksud? Apakah kebenaran adalah tujuan akhir, atau apakah kita hanya memiliki versi modern dari pemikir Sophis?

Jika kita menghilangkan tujuan pencarian kebenaran dari alasan, maka yang tersisa hanyalah kecakapan berbicara. Alasan tanpa kebenaran sama seperti Hamlet tanpa hantu—tidak ada panggilan, tidak ada pertanggungjawaban, tidak ada arah.

Buku ini memang cerdas dan menarik, tetapi kemerlapannya tidak berarti bahwa ia berharga. Jika Anda mencari pemahaman yang lebih akurat tentang alasan, mungkin sebaiknya membaca karya-karya Hegel, Heidegger, Gadamer, atau Taylor. Buku ini lebih mirip dengan suku yang sedang melukis wajah mereka.

library_books Arancanes