Pada tahun 1980, Donald Trump yang saat itu berusia 34 tahun memberikan wawancara dengan seorang kolumnis gosip. Dalam wawancara tersebut, Trump mengemukakan pendapatnya mengenai krisis sandera yang sedang terjadi di Iran. Ia berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya menginvasi Iran untuk mendapatkan kekayaan dari minyak dan juga untuk mendapatkan rasa hormat dari negara lain. "Itu akan menjadi kemenangan termudah yang pernah kita raih," katanya.
Kini, dengan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, Trump telah mengambil keputusan yang sulit dan menunjukkan keberanian yang selama ini ia klaim mampu lakukan. Keputusan ini menunjukkan bahwa ia masih percaya pada strategi militer untuk mencapai tujuannya.
Namun, pertanyaannya adalah, akankah keberuntungannya bertahan? Sejarah menunjukkan bahwa setiap langkah yang diambil di kawasan Timur Tengah selalu penuh risiko. Keterlibatan Amerika Serikat di sana telah berlangsung selama beberapa dekade dan selalu menjadi topik perdebatan.
Dari saran invasi di tahun 1980 hingga keputusan saat ini, perjalanan Trump dalam mengejar kemenangan di Timur Tengah bisa ditelusuri kembali ke masa lalu. Apakah langkah-langkah yang diambilnya akan membawa hasil yang diinginkan, atau justru sebaliknya? Ini adalah pertanyaan yang masih menggantung dan menjadi perhatian banyak orang.
Donald Trump invasi Iran krisis sandera minyak Timur Tengah