Pada minggu ini, Israel melakukan tindakan yang sangat mengejutkan dengan menyerang kapal Inggris bernama Madleen. Kapal ini berusaha menembus blokade bantuan yang diterapkan oleh Israel di Gaza. Tindakan ini menarik perhatian karena di dalam kapal tersebut terdapat aktivis muda terkenal asal Swedia, Greta Thunberg, yang mencoba menarik perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza.
Tindakan perompakan ini terjadi di laut lepas dan bukan di wilayah Gaza yang tertutup. Israel menabrak dan mengambil alih kapal tersebut, yang memiliki 12 anggota kru, termasuk Greta Thunberg. Semua penumpang kemudian diculik dan dibawa ke Israel. Greta, yang dikenal luas karena perjuangannya melawan perubahan iklim, berusaha menggunakan ketenarannya untuk menarik perhatian pada blokade bantuan yang dianggap ilegal oleh banyak pihak.
Pemimpin politik di negara-negara Barat, seperti Inggris, baru-baru ini mengambil langkah untuk melarang masuknya dua menteri kabinet kanan jauh Israel, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben Gvir. Namun, banyak yang berpendapat bahwa tindakan ini tidak cukup kuat untuk menunjukkan penolakan mereka terhadap kebijakan Israel yang dianggap sebagai genosida di Gaza.
Aksi kru Madleen berlayar menuju Gaza bertujuan untuk menggugah kesadaran pemerintah Barat yang seharusnya menghentikan genosida, sesuai dengan Konvensi Genosida 1948 yang telah mereka ratifikasi. Mereka ingin menunjukkan bahwa dunia tidak boleh diam saja saat melihat tindakan kejam yang terjadi.
Greta dan kru Madleen ingin memberikan contoh bahwa kita bisa menolak untuk tidak memanusiakan orang lain. Mereka berharap bisa menginspirasi orang lain untuk tidak terlibat dalam kekejaman dan tidak membiarkan diri mereka setuju melalui kebisuan dan ketidakaktifan.
Namun, untuk mencapai ini, penting bagi kita untuk tidak terpaku pada suara-suara pemimpin politik dan media yang dimiliki oleh miliarder. Hanya dengan cara itu kita bisa memahami arti sebenarnya dari menjadi manusia.
Israel kapal Inggris Greta Thunberg perompakan Gaza