Menurut sebuah studi terbaru oleh aplikasi kencan Feeld, semakin banyak milenial dan Gen Z yang memilih untuk menjalin hubungan tanpa hierarki. Fenomena ini dikenal dengan istilah hubungan anarkis atau relationship anarchy.
Hubungan anarkis adalah filosofi hubungan yang dibangun di atas nilai-nilai yang jelas. Konsep ini menolak adanya hierarki dalam hubungan, menolak kapitalisme, dan lebih mengutamakan perawatan timbal balik. Dalam hubungan ini, semua pihak terlibat berusaha untuk membangun hubungan yang didasarkan pada persetujuan bersama.
Istilah hubungan anarkis pertama kali diperkenalkan oleh penulis dan aktivis asal Swedia, Andie Nordgren, pada tahun 2006. Dalam manifestonya, Nordgren menyatakan bahwa hubungan anarkis "mempertanyakan ide bahwa cinta adalah sumber daya yang terbatas dan hanya bisa nyata jika dibatasi pada sepasang kekasih."
Meski gaya hidup ini telah muncul secara perlahan di kalangan komunitas di San Francisco dan Eropa dalam dekade terakhir, saat ini hubungan anarkis kembali menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda. Banyak orang muda yang memilih untuk tetap single lebih lama dan mengadopsi pola hubungan poliamori yang semakin umum.
Menurut studi Feeld, satu dari lima orang ternyata menjalani hubungan ini tanpa menyadarinya. Selain itu, sekitar 36 persen orang berusia 25 hingga 36 tahun telah mengadopsi gaya hidup ini, dibandingkan dengan hanya 15 persen dari generasi Boomers.
Tren ini menunjukkan perubahan signifikan dalam cara pandang generasi muda terhadap cinta dan hubungan. Mereka lebih terbuka untuk menjelajahi berbagai bentuk hubungan dan menolak norma-norma tradisional yang selama ini mengatur cara kita menjalin hubungan.
hubungan anti-hierarkis generasi muda Feeld hubungan anarkis