Sebanyak 11 orang tahanan politik di Kampung Maba Sangaji terus berjuang demi kelestarian lingkungan hidup. Mereka ditahan karena aktif dalam perlawanan melawan kerusakan alam yang disebabkan oleh kegiatan tambang nikel yang merusak sungai dan hutan di daerah tersebut.
Menurut para pendukungnya, perjuangan mereka adalah untuk menyelamatkan sumber kehidupan bagi masyarakat dan generasi yang akan datang. Sungai Kali Sangaji, yang merupakan sumber air bagi warga, kini mengalami kerusakan serius. Sebelumnya, air sungai ini sangat jernih, namun setelah kegiatan tambang dimulai, airnya menjadi keruh dan berlumpur akibat sedimen ore nikel yang dibawa oleh aktivitas penambangan.
"Kita tidak bisa membiarkan kerakusan dari negara dan korporasi merusak alam kita. Kami akan terus berjuang, meskipun di balik jeruji besi," ungkap salah satu pendukung mereka.
Masyarakat setempat bersama aktivis lingkungan menggalang solidaritas untuk mendukung ke-11 tahanan politik ini. Mereka menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk mereka, tetapi untuk semua orang yang bergantung pada sumber daya alam.
Kampanye #bebaskan11wargamabasangaji dan #cabutizintambangptposition terus digalakkan untuk menarik perhatian publik terhadap isu ini. Warga berharap, dengan dukungan masyarakat luas, mereka bisa mengubah keadaan dan menghentikan kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Kegiatan tambang yang merusak ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kelestarian alam. Masyarakat di Maba Sangaji percaya bahwa jika tidak ada tindakan tegas, masa depan anak cucu mereka akan terancam. Oleh karena itu, solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan ini sangat diperlukan.
Dengan semangat perlawanan yang tak kunjung padam, mereka berharap dapat memulihkan kembali sungai dan hutan yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama ini.
tahanan politik Maba Sangaji lingkungan tambang nikel perlawanan