Pada tanggal 4 Mei 2025, WALHI Jawa Timur bersama beberapa organisasi seperti Amnesty Unair, IMM Surabaya, GUSDURian Surabaya, LBH Surabaya, dan AJI Surabaya menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Aksi ini dilaksanakan untuk mendesak perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Dalam aksi tersebut, para peserta menyoroti beberapa isu penting yang mempengaruhi keadaan lingkungan di Jawa Timur. Pertama, mereka mengkritik proyek energi, terutama geotermal, yang dianggap dapat mengancam konservasi sumber daya alam dan kualitas air di daerah tersebut. Proyek ini, menurut para aktivis, dapat berdampak negatif bagi ekosistem yang ada.
Selanjutnya, isu pertambangan juga menjadi sorotan. Para aktivis menyatakan bahwa kegiatan pertambangan telah menyebabkan banjir dan krisis ekologi di banyak wilayah. Hal ini merugikan masyarakat setempat dan mengancam keberlangsungan hidup mereka.
Aksi ini juga mengangkat perhatian terhadap pembangunan yang mengorbankan wilayah lindung, terutama di desa-desa demi kepentingan kota. Pembangunan yang tidak terencana sering kali mengabaikan keseimbangan ekosistem dan mengancam habitat alami.
Pentingnya partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam kebijakan lingkungan juga menjadi perhatian dalam aksi ini. Para aktivis menekankan bahwa suara mereka harus didengar dan diakomodasi dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan.
Pesan utama dari aksi ini sangat jelas: "Hentikan perusakan atas nama pembangunan. Adil untuk Bumi, Adil untuk Semua!" Pesan ini menggugah kesadaran masyarakat akan perlunya menjaga lingkungan demi generasi yang akan datang.
Aksi ini diharapkan dapat mendorong pemerintah untuk lebih serius dalam menangani masalah lingkungan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak merugikan ekosistem serta masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi semua.
WALHI lingkungan aksi konservasi perlindungan