Annalen Baerbock, yang merupakan seorang diplomat asal Jerman, baru-baru ini terpilih sebagai Presiden Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam perannya ini, Baerbock akan memimpin rapat-rapat umum, serta menetapkan agenda dan topik yang akan dibahas. Dengan tugas ini, wanita berusia 44 tahun tersebut diharapkan bisa memiliki pengaruh terbatas dalam proses pengambilan keputusan di belakang layar, termasuk dalam pemilihan Sekretaris Jenderal PBB yang akan datang.
UN memiliki dua cabang utama, yaitu Sidang Umum dan Dewan Keamanan. Dewan Keamanan terdiri dari 15 negara, termasuk lima negara dengan hak veto, dan memiliki kekuatan untuk mengeluarkan resolusi yang mengikat secara hukum. Sementara itu, keputusan di Sidang Umum sering kali bersifat simbolis dan lebih menggambarkan pendapat global.
Menariknya, pemilihan Baerbock tidak berjalan seperti biasanya. Menurut laporan, Rusia meminta pemungutan suara rahasia untuk pemilihan ini, yang biasanya dilakukan secara aklamasi tanpa ada kandidat lain. Dalam pemungutan suara tersebut, hanya nama Baerbock yang tertera, tetapi peserta juga dapat memilih untuk tidak memberikan suara atau menambahkan nama lain.
Rusia sebelumnya menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Baerbock, menganggapnya sebagai kandidat yang tidak layak dan menuduhnya memiliki "kecenderungan yang jelas". Sebagai Menteri Luar Negeri Jerman, Baerbock menerapkan kebijakan yang keras terhadap Rusia terkait invasi ke Ukraina, yang membuatnya sering menjadi sasaran kritik dari pihak Moskow.
Awalnya, posisi Presiden Sidang Umum PBB seharusnya dijabat oleh diplomat Jerman lainnya, Schmid, yang juga diterima oleh Rusia. Namun, Baerbock terpilih meskipun menghadapi kritik karena keterlambatannya dalam mencalonkan diri setelah pemilihan umum yang kalah.
Dengan terpilihnya Baerbock, banyak yang berharap dia dapat membawa perubahan positif dalam organisasi internasional ini, meskipun tantangan dari negara-negara tertentu, termasuk Rusia, tetap ada.
Baerbock UN Presiden Sidang Umum Rusia