Pabrik Gula (PG) Mojo yang terletak di Kota Sragen, Jawa Tengah, baru saja memulai musim giling tebu. Dalam rangka menyambut musim giling ini, pabrik menggelar tradisi Cembengan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini meliputi pertunjukan wayang kulit dan pasar rakyat yang diadakan untuk memohon keselamatan dan kelancaran selama proses giling tebu.
Di depan pintu masuk pabrik, terdapat papan yang bertuliskan "Pabrik Iki Openono Sanajan Ora Nyugihi Nanging Nguripi." Kalimat ini jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "Rawatlah pabrik ini meski tidak membuat kaya namun menghidupi." Pesan ini menggambarkan pentingnya keberadaan pabrik gula bukan hanya untuk keuntungan ekonomi, tetapi juga sebagai simbol kesejahteraan masyarakat dan kemandirian bangsa.
Saat musim giling dimulai, suasana di sekitar PG Mojo sangat ramai. Terlihat antrean truk yang membawa tumpukan tebu untuk diproses. Setelah melalui tahap penimbangan dan bongkar muat, tebu-tebu ini kemudian akan dipindahkan ke atas lori untuk diproses lebih lanjut. Suara deru mesin dan kepulan asap dari cerobong menunjukkan bahwa pabrik sedang beroperasi dengan penuh semangat.
Tradisi Cembengan merupakan cara masyarakat setempat untuk merayakan datangnya musim giling tebu. Selain pertunjukan wayang kulit, pasar rakyat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Ini adalah kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul dan merayakan hasil pertanian mereka.
Dengan demikian, PG Mojo bukan hanya sekadar pabrik gula, tetapi juga bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Sragen. Pabrik ini menjadi simbol harapan dan keberlanjutan bagi warga sekitar.
Pabrik Gula Sragen musim giling Cembengan tebu