Komunitas queer, terutama transgender di Amerika, kini menghadapi tantangan yang serius. Pemerintahan saat ini dianggap melakukan penghapusan informasi kesehatan, otonomi gender, sejarah, dan kesempatan kerja bagi orang-orang transgender. Hal ini terjadi bahkan pada monumen nasional seperti Stonewall, yang dikenal sebagai tempat lahir gerakan hak LGBT modern.
Miss Peppermint, seorang kontestan dari acara RuPaul's Drag Race, menyatakan, "Ini memalukan karena kita melihat penutupan di depan mata kita." Banyak perusahaan juga mulai mundur dari inisiatif yang sebelumnya merayakan kebanggaan queer sebagai bagian dari pengetatan kebijakan keanekaragaman, kesetaraan, dan inklusi.
Namun, di tengah tantangan ini, masih ada harapan. Komunitas queer tetap berusaha untuk melestarikan sejarah mereka. Sejarah tidak selalu terlihat di depan kita, tetapi sering kali berada di belakang.
Hugh Ryan, seorang sejarawan queer dan penulis, berbagi pandangannya tentang keadaan komunitas queer, baik di masa lalu maupun sekarang. "Mereka pintar," katanya tentang komunitas queer di masa lalu. "Bukan karena mereka memiliki akses ke alat atau teknologi yang kita miliki saat ini. Mereka pintar karena mereka mampu menavigasi sistem penindasan yang masih ada hingga sekarang. Kita perlu belajar dari mereka—dan satu-satunya cara kita bisa melakukannya sekarang adalah dengan membaca cerita mereka."
Saat ini, Hugh Ryan memimpin Queer History 101 bersama Miss Peppermint, sebuah klub buku virtual yang menggabungkan cerita tentang perlawanan queer dengan komunitas. Klub ini bertujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi generasi baru tentang pentingnya sejarah queer.
Dengan upaya seperti ini, komunitas queer berharap dapat terus mengingat dan merayakan sejarah mereka meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi.
komunitas queer transgender sejarah RuPaul Hugh Ryan