Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan tuduhan serius terhadap Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, saat kunjungan Ramaphosa ke Gedung Putih. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh wartawan, Trump menunjukkan artikel dan video yang menurutnya menunjukkan adanya pembunuhan massal terhadap penduduk kulit putih di Afrika Selatan.
Dalam video yang ditayangkan, terdapat potongan gambar yang memperlihatkan deretan salib putih di pinggir jalan. Trump mengklaim bahwa di lokasi tersebut terdapat lebih dari seribu mayat petani kulit putih yang dibunuh. Namun, saat video diputar, Ramaphosa bertanya kepada Trump apakah ia mengetahui lokasi pasti dari kuburan tersebut. Trump menjawab tidak tahu, tetapi tetap bersikeras dengan klaimnya bahwa petani kulit putih di Afrika Selatan dibunuh secara sistematis.
Namun, informasi dari New York Times menunjukkan bahwa salib-salib tersebut bukanlah tanda kuburan petani yang dibunuh. Sebaliknya, itu merupakan aksi protes yang diadakan di dekat kota Newcastle pada tahun 2020, yang bertujuan menentang pembunuhan dua petani kulit putih pada bulan Agustus tahun yang sama.
Tuduhan Trump ini didasarkan pada teori konspirasi yang dikenal dengan istilah "genosida kulit putih", yang populer di kalangan kelompok kanan ekstrem di Amerika Serikat. Meskipun ada tingkat kekerasan yang tinggi di Afrika Selatan, sebagian besar korban adalah warga kulit hitam. Para ahli pun membantah klaim Trump mengenai adanya genosida.
Pemerintah Afrika Selatan juga menolak keras tuduhan tersebut. Pada awal bulan Februari, Trump telah menghentikan bantuan untuk Afrika Selatan. Bulan Maret lalu, Amerika Serikat juga mengusir duta besar Afrika Selatan. Baru-baru ini, AS menerima sekelompok kecil warga kulit putih dari Afrika Selatan dan memberi mereka status pengungsi, meskipun pemerintahan Trump telah menghentikan sebagian besar penerimaan pengungsi dari daerah perang dan krisis.
Tuduhan dan pernyataan Trump ini menimbulkan kontroversi dan menambah ketegangan antara kedua negara.
Trump Afrika Selatan Ramaphosa pembunuhan massal berita