Dalam sebuah autobiografi, Chaim Weizmann, presiden pertama negara Zionis, menyatakan bahwa "Palestina Yahudi akan menjadi pelindung bagi Inggris, terutama terkait dengan Terusan Suez." Pernyataan ini menunjukkan bahwa proyek Zionis awalnya didirikan untuk kepentingan Kekaisaran Inggris dan kemudian berlanjut untuk mendukung hegemoni global Amerika Serikat.
Walaupun banyak yang meragukan kekuatan lobi Zionis dalam kebijakan Timur Tengah Amerika, pertanyaan yang muncul adalah siapa yang sebenarnya memimpin hubungan ini. Hal ini semakin jelas dengan adanya perubahan kebijakan Presiden Donald Trump baru-baru ini.
Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden paling pro-Israel dalam sejarah Amerika. Selama masa jabatannya yang pertama, ia mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, yang bertentangan dengan kebijakan Amerika selama beberapa dekade. Selain itu, ia memindahkan kedutaan Amerika ke Yerusalem dan mengakui "kedaulatan" Israel atas Dataran Tinggi Golan yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Dalam suatu kunjungan, Netanyahu, Perdana Menteri Israel, terkejut ketika Trump mendukung Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dan menyerukan Israel untuk mencapai kesepakatan dengan Turki. Ini menunjukkan dinamika baru dalam hubungan internasional.
Israel Amerika Serikat Trump kebijakan Timur Tengah