Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Warga Korban Ekstraktivisme Bangkit Melawan Praktik Tambang Harita

Pada hari Minggu, 18 Mei 2025, sebuah diskusi penting diadakan secara daring melalui Twitter (X Space) oleh Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) untuk membahas berbagai masalah yang disebabkan oleh praktik ekstraktivisme perusahaan Harita Group. Harita Group, sebuah konglomerasi bisnis yang dikendalikan oleh keluarga Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia. Pada tahun 2022, keluarga ini berhasil menempatkan Lim sebagai orang terkaya ke-36 di Indonesia menurut Forbes, dengan kekayaan mencapai lebih dari Rp 17 triliun. Tetapi di balik kekayaan tersebut, banyak warga yang menderita. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana tambang Harita menghancurkan lingkungan mereka. Hutan dan bentang alam yang selama ini menjadi tempat hidup mereka, hancur karena aktivitas tambang. Selain itu, perekonomian tradisional dan ruang pangan warga pun hilang, menyebabkan konflik sosial yang cukup besar. Penduduk setempat mengeluhkan kualitas air yang memburuk dan udara yang tercemar, yang turut memicu berbagai gangguan kesehatan. Tak hanya masalah lingkungan, warga juga mengalami intimidasi, kekerasan, bahkan kriminalisasi akibat berusaha menyuarakan hak mereka. Diskusi ini diisi oleh warga dari Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara, yaitu Julfikar Sangaji dan Sarmanto, serta narasumber dari JATAM, Alfarhat Kasman. Mereka berbagi pengalaman dan keprihatinan terhadap praktik tambang yang merusak dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat. Acara ini menjadi pengingat bahwa praktik ekstraktivisme harus dihentikan. Banyak aktivis dan warga meminta pemerintah dan perusahaan berhenti mengeksploitasi sumber daya alam dengan cara yang merusak. Mereka menuntut agar tambang-tambang harus ditutup dan lingkungan serta hak masyarakat dilindungi. Dengan semangat #HATAM2025 dan #StopEkstraktivisme, warga dan aktivis terus berjuang agar Indonesia bisa menjadi negara yang berdaulat tanpa tambang yang merusak.

library_books Jatamnas