Pada tahun 2024, jumlah pengungsi internasional mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Menurut laporan bersama dari UN-Beobachtungsstelle für Binnenvertriebene (IDMC) dan Norwegischen Flüchtlingsrats (NRC), jumlah orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka mencapai 83,4 juta di seluruh dunia. Ini adalah angka tertinggi yang pernah tercatat dan lebih dari dua kali lipat jumlah enam tahun lalu.
Data tersebut menunjukkan bahwa hampir 90 persen dari mereka, sekitar 73,5 juta orang, melarikan diri karena kekerasan dan konflik. Wilayah yang paling terdampak termasuk Republik Demokratik Kongo, Wilayah Palestina, dan Sudan.
Peningkatan jumlah pengungsi ini sebagian besar disebabkan oleh konflik yang berlangsung di Sudan dan Gaza, serta bencana alam seperti banjir dan badai yang dinamakan Helene dan Milton.
Sementara itu, di Amerika Serikat, terdapat 11 juta pengungsian pada tahun 2024. Ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat di negara tersebut sejak awal pencatatan pada tahun 2008. Pengungsian ini juga mencakup evakuasi sementara karena cuaca buruk. Meskipun total pengungsian mencapai 11 juta, jumlah orang yang masih terpaksa meninggalkan rumah mereka pada akhir tahun hanya 22.000.
Jumlah pengungsian ini termasuk orang-orang yang terpaksa pindah lebih dari sekali. Banyak dari mereka tidak merasa aman di tempat perlindungan pertama mereka atau mengalami bencana lain yang membuat mereka kembali terpaksa meninggalkan rumah. Oleh karena itu, baik jumlah pengungsian dalam setahun maupun jumlah pengungsi pada akhir tahun dihitung. Beberapa pengungsi bahkan tidak dapat kembali ke rumah mereka selama bertahun-tahun.
Contohnya, pada tahun 2024, IDMC dan NRC mencatat 3,2 juta pengungsian di wilayah Palestina. Namun, pada akhir tahun 2024, jumlah pengungsi di wilayah tersebut mencapai 2,03 juta, yang mencakup hampir seluruh penduduk Gaza.
Situasi ini menunjukkan betapa mendesaknya masalah pengungsi dan perlunya perhatian serta dukungan internasional untuk membantu mereka yang terdampak oleh konflik dan bencana alam.
pengungsi bencana alam konflik bersenjata IDMC NRC