Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Kisah Walter Spies dan Kapal Van Imhoff yang Tenggelam

Walter Spies, seorang pelukis dan seniman terkenal, lahir pada 15 September 1895. Ia dikenal sebagai pelukis, fotografer, penulis, komposer, dan kurator yang berperan penting dalam modernisasi seni di Jawa dan Bali. Sayangnya, Walter Spies meninggal dunia pada 19 Januari 1942 ketika kapal yang membawanya, yaitu kapal Van Imhoff, tenggelam di Samudra Hindia.

Kapal Van Imhoff membawa Walter Spies dan sejumlah interniran Jerman lainnya menuju Sri Lanka. Namun, kapal tersebut dibom oleh pesawat Jepang tak jauh dari Pulau Nias. Kejadian ini menjadi bagian dari sejarah yang menarik, terutama bagi Bung Karno, yang melihat adanya tautan unik antara dirinya dengan Spies dan kapal Van Imhoff.

Nama kapal Van Imhoff diambil dari Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan dikenal karena membangun Istana Bogor. Bung Karno, yang merupakan Presiden pertama Indonesia, sangat menghargai karya seni. Ia mengutus Dullah, seorang pelukis istana, untuk mencari lukisan-lukisan karya Walter Spies. Namun, Dullah menemui kesulitan karena karya Spies sangat langka.

Dalam upayanya, Dullah menghubungi Rudolf Bonnet, yang merupakan rekan Spies dan ikut mendirikan Pita Maha di Bali pada tahun 1936. Bonnet pernah menjadikan rumah Spies di Ubud sebagai tempat berkumpulnya pelukis Bali. "Harapannya, karya Spies akan kembali lagi ke sini. Tapi tak juga datang," ujar Bonnet, seperti yang dituliskan oleh Agus Dermawan T, seorang pengamat seni, dalam bukunya.

Akhirnya, Bung Karno berhasil memperoleh lukisan Spies berjudul "Suatu Pagi di Iseh" yang dibuat pada tahun 1938. Lukisan ini menggambarkan pemandangan sekitar rumah Spies di kawasan Ubud yang indah.

Pada tahun 1964, tiga poster karya Walter Spies dipamerkan di Jerman oleh penerbit JB. Wolters. Beberapa di antaranya adalah poster yang dibuat Spies untuk mempromosikan candi pada tahun 1930. Bung Karno menginstruksikan Lukman Hakim, Dubes RI untuk Jerman, untuk membeli semua karya tersebut. Menurut Bung Karno, karya Spies bukan sekadar gambar poster, tetapi merupakan lukisan yang memiliki makna seni yang dalam.

Beberapa karya yang diakuisisi antara lain berjudul "Kehidupan Keraton Jawa di Zaman Borobudur" yang berukuran 60x80 cm, dibuat di atas kanvas yang tertempel di kayu. Ada juga "Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9" berukuran 65x80 cm, yang dibuat menggunakan teknik tempera dan pastel di atas kertas. Selain itu, terdapat juga lukisan "Pertapaan di Abad ke-11" yang berukuran 65x85 cm, menggunakan cat minyak di atas papan.

Kisah Walter Spies dan kapal Van Imhoff tidak hanya menggambarkan perjalanan seorang seniman, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah yang menghubungkan seni dan perjuangan bangsa Indonesia.

library_books Pdiperjuangan