Pada akhir bulan lalu, berita mengejutkan datang dari Prancis. Seorang pemuda Muslim berusia 20 tahun bernama Aboubakar Cisse, yang berasal dari Mali, ditemukan tewas di dalam sebuah masjid di selatan Prancis. Awalnya, insiden ini digambarkan sebagai perselisihan pribadi, tetapi setelah penyelidikan, pihak kejaksaan setempat mengumumkan bahwa kasus ini sedang diselidiki sebagai tindakan dengan konotasi Islamofobia.
Aboubakar Cisse tidak hanya dibunuh; ia menjadi target dalam tempat suci. Setelah membersihkan masjid untuk ibadah shalat Jumat, rekaman video pengawas menunjukkan Cisse sedang mengajarkan seorang pria lain cara berdoa. Saat Cisse sujud dalam doa, pria tersebut berpura-pura mengikuti, tetapi kemudian mengeluarkan pisau dan menikamnya sebanyak 57 kali sambil meneriakkan kata-kata kebencian yang berhubungan dengan Islam.
Akibat tragedi ini, perasaan duka yang mendalam melanda komunitas Muslim. Setiap detail dari rekaman video tersebut semakin memperdalam kesedihan serta memicu kemarahan yang menyala-nyala. Meskipun terdapat bukti video yang jelas, masih banyak orang yang menolak untuk menyebut insiden ini sebagai kejahatan kebencian yang berkaitan dengan Islamofobia dan rasisme anti-Hitam. Ini bukanlah perselisihan pribadi, melainkan hasil dari puluhan tahun perilaku diskriminatif yang telah dinormalisasi.
Seorang pria berkebangsaan Bosnia Prancis telah ditangkap terkait kasus ini. Pengacaranya membantah bahwa Cisse menjadi target karena agamanya, tetapi bagi Abdallah Zekri, wakil presiden Dewan Muslim Prancis, bukti yang ada sangat jelas. Ia menyatakan, "Ini adalah kejahatan Islamofobia, yang terburuk di antara semua yang terjadi di Prancis terhadap komunitas kami."
Peristiwa ini bukan hanya tentang satu individu yang sakit jiwa. Ini adalah tentang ekosistem kebencian yang lebih besar, yang didukung oleh kebijakan negara yang tampak netral, narasi media yang menggambarkan Muslim sebagai ancaman, serta penghinaan yang dialami oleh siswa, pekerja, dan keluarga Muslim setiap hari.
Strategi anti-rasisme Uni Eropa harus diciptakan bersama komunitas Muslim. Ini harus mengakui sifat interseksional dari diskriminasi dan menghindari pemisahan perjuangan dengan memisahkan Islamofobia dari upaya anti-rasisme yang lebih luas.
Prancis pemuda Muslim Islamofobia penyerangan masjid