Ilmuwan telah mengembangkan antivenom universal yang berpotensi revolusioner dengan menggunakan antibodi dari Tim Friede, seorang pria dari Wisconsin. Selama 18 tahun, Friede sengaja menggigit sekitar 200 ular dan menerima lebih dari 700 suntikan racun. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Cell, di mana para ilmuwan dari Columbia University berhasil mengisolasi "super antibodi" dari darah Friede. Antibodi ini dapat menetralisir neurotoksi dari 19 spesies ular berbisa yang berbeda, termasuk kobra, mamba, dan taipan.
Pengobatan eksperimental ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dibandingkan antivenom tradisional. Antivenom tradisional biasanya spesifik untuk satu spesies dan dihasilkan dengan menyuntikkan racun ke dalam kuda atau hewan besar lainnya. Metode ini sudah ada selama lebih dari seratus tahun dan dapat menyebabkan reaksi buruk pada manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gigitan ular berbisa membunuh sekitar 110.000 orang setiap tahunnya dan membuat banyak orang lainnya mengalami cacat permanen.
Pengalaman berbahaya Friede dimulai sebagai langkah perlindungan saat menangani koleksi ular berbisa miliknya. Namun, seiring berjalannya waktu, itu berubah menjadi apa yang dia sebut sebagai misi ilmiah. Meskipun hampir meninggal beberapa kali, termasuk jatuh koma setelah digigit kobra secara berurutan, dia terus melanjutkan pendekatan yang tidak lazim ini. "Saya berkontribusi positif untuk umat manusia, dan itu sangat berarti bagi saya," kata Friede kepada para wartawan.
Sementara itu, para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Peter Kwong optimis tentang potensi antivenom universal ini. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa pengujian yang ekstensif masih diperlukan sebelum uji coba pada manusia dapat dimulai. Jika berhasil, penemuan ini bisa merevolusi pengobatan gigitan ular di seluruh dunia dan berpotensi menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun.
antivenom racun ular Tim Friede ilmuwan kesehatan