Setelah pemakaman Paus Fransiskus, para kardinal akan mengadakan konklave untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik. Konklave kali ini akan menjadi yang paling beragam dalam sejarah, dengan total 133 kardinal yang memiliki hak suara dari 65 negara berbeda.
Sayangnya, dua kardinal, Vinko Puljić dari Bosnia-Herzegovina dan Antonio Cañizares dari Spanyol, harus membatalkan perjalanan mereka ke Roma karena alasan kesehatan. Hal ini berarti hanya 133 kardinal yang dapat berpartisipasi dalam pemilihan ini. Sejak awal, komposisi kardinal sudah menunjukkan bahwa pemilihan kali ini kurang fokus pada Eropa dibandingkan dengan pemilihan sebelumnya.
Paus Fransiskus telah berupaya untuk membuat Gereja Katolik lebih beragam. Dari 135 kardinal yang awalnya terdaftar, 108 di antaranya diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus sendiri. Sementara 22 kardinal lainnya diangkat pada masa kepemimpinan Benediktus XVI. Hanya ada lima kardinal yang masih aktif dari masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II.
Hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang diperbolehkan untuk memilih Paus baru. Saat ini, ada 117 kardinal yang masih hidup tetapi sudah terlalu tua untuk memberikan suara. Dengan demikian, pemilihan ini semakin diwarnai oleh generasi baru pemimpin gereja.
Jika dilihat dari negara asalnya, Italia memiliki jumlah kardinal terbanyak dengan 17 kardinal. Selain itu, ada juga Pierbattista Pizzaballa yang merupakan Patriark Yerusalem dan Giorgio Marengo, Prefek Apostolik di Mongolia, yang juga berasal dari Italia. Sementara itu, Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kardinal tertinggi kedua, yaitu 10 kardinal.
Dari Jerman, ada tiga kardinal yang ikut serta, yaitu Reinhard Marx (München dan Freising), Rainer Maria Woelki (Köln), dan Gerhard Ludwig Müller, mantan Prefek Kongregasi Iman.
Konklave ini diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi Gereja Katolik di seluruh dunia, seiring dengan harapan umat Katolik terhadap pemimpin baru.
Konklave Papstwahl Kardinal Franziskus Paus