OLDENBURG – Setelah penembakan fatal yang menewaskan Lorenz A., seorang pemuda berusia 21 tahun, sekitar 8.000 hingga 10.000 orang berkumpul di Oldenburg untuk melakukan demonstrasi. Jumlah ini jauh melampaui perkiraan awal pihak berwenang yang memperkirakan hanya 5.000 peserta.
Pihak kepolisian menghindari kehadiran yang terlalu mencolok di lokasi demonstrasi untuk mencegah provokasi. Meski begitu, mereka tetap menyiagakan banyak petugas di sekitar area tersebut.
Selain di Oldenburg, sebuah demonstrasi juga berlangsung di Hannover dengan tema "In Gedenken an Lorenz" atau "Untuk Mengenang Lorenz". Sekitar 160 orang turut berpartisipasi dalam pawai tersebut, menurut laporan polisi. Demonstrasi serupa juga dijadwalkan di berbagai kota lain.
Lorenz A. mengalami penembakan oleh polisi pada tanggal 20 April di pusat kota Oldenburg. Hasil autopsi menunjukkan bahwa dia terkena setidaknya tiga peluru di bagian belakang tubuhnya, termasuk di area dada, pinggul, dan kepala. Satu peluru tambahan dilaporkan hanya mengenai paha kanan. Setelah insiden tersebut, Lorenz A. meninggal di rumah sakit.
Kasus ini memicu tuduhan rasisme terhadap pihak kepolisian, mengingat Lorenz A. adalah seorang pemuda kulit hitam. Kejadian ini telah menimbulkan rasa duka dan kemarahan di Oldenburg serta sekitarnya, terutama karena masih banyak pertanyaan yang belum terjawab terkait tindakan polisi pada saat kejadian.
Oldenburg demonstrasi Lorenz A penembakan polisi