Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang mendesak pemimpin Rusia, Vladimir Putin, untuk menghentikan serangan yang terjadi di ibu kota Ukraina, Kiev. Dalam sebuah unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menulis, "Wladimir, STOPP!" Ia mengungkapkan ketidakpuasan terhadap serangan Rusia di Kiev, yang dianggapnya tidak perlu dan datang pada waktu yang sangat buruk. Menurut Trump, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan kesepakatan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Sebelumnya, beberapa media di Amerika Serikat melaporkan mengenai sebuah proposal dari pemerintah AS yang disebut-sebut akan memenuhi beberapa tuntutan Rusia. Proposal tersebut mencakup pengakuan Amerika Serikat terhadap pendudukan Rusia di wilayah timur Ukraina, yaitu Donezk, Luhansk, Cherson, dan Saporischschja. Selain itu, pengakuan juga akan diberikan terhadap pencaplokan Krimea oleh Rusia yang terjadi pada tahun 2014. Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menolak untuk mengakui pendudukan Krimea tersebut.
Usulan kesepakatan dari Trump ini menuai kritik dari beberapa politisi di Jerman. Roderich Kiesewetter, seorang politisi luar negeri dari partai CDU, menyebut usulan tersebut sebagai "akta kapitulasi". Dalam wawancaranya di program ARD-Morgenmagazin, Kiesewetter menyatakan, "Tentu saja, baik Eropa maupun Ukraina tidak bisa setuju dengan ini, karena keamanan kita akan semakin terancam."
Politisi lainnya dari partai FDP, Marie-Agnes Strack-Zimmermann, serta pemimpin partai Linke, Jan van Aken, juga menyampaikan ketidaksetujuan mereka terhadap proposal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa situasi di Ukraina dan hubungan internasional masih menjadi topik yang sangat sensitif dan kompleks, di mana banyak negara memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda.
Dengan serangkaian pernyataan dan proposal ini, perhatian dunia tertuju pada bagaimana langkah selanjutnya yang akan diambil oleh kedua negara dan upaya untuk mencapai perdamaian di wilayah yang telah lama dilanda konflik.
Trump Putin Ukraina serangan perdamaian