Pada hari Sabtu, ribuan orang di Amerika Serikat kembali turun ke jalan untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump. Ini terjadi dua minggu setelah demonstrasi terbesar sejak Trump kembali menjabat di Gedung Putih. Protes berlangsung di berbagai kota, termasuk New York dan Washington, serta banyak kota lainnya di seluruh negeri.
Di New York, para demonstran mengangkat poster dengan tulisan-tulisan seperti "Tidak Ada Raja di Amerika" dan "Melawan Tirani". Banyak orang juga mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kebijakan deportasi Trump, dengan meneriakkan slogan yang menyatakan dukungan untuk imigran. Mereka berteriak, "Tidak Ada ICE, Tidak Ada Ketakutan, Imigran Selalu Diterima". ICE adalah lembaga imigrasi yang terlibat dalam penegakan hukum terhadap imigran tanpa izin.
Menurut informasi dari penyelenggara, sekitar 400 demonstrasi direncanakan di seluruh negeri. Di Texas, sebuah aksi kecil juga berlangsung di kota pesisir Galveston. Seorang demonstran berusia 63 tahun, Patsy Oliver, mengatakan, "Ini adalah demonstrasi saya yang keempat. Biasanya, saya akan duduk santai dan menunggu pemilihan berikutnya. Namun, kita tidak bisa melakukan itu sekarang. Kita sudah kehilangan terlalu banyak."
Di California, ratusan penggemar anti-Trump berkumpul di pantai San Francisco. Sebuah foto yang dipublikasikan oleh surat kabar "San Francisco Chronicle" menunjukkan para demonstran membentuk lingkaran besar dengan tulisan "Impeach + Remove" yang berarti "Des Amat dari Jabatannya dan Mencopot".
Di Washington D.C., seorang pria memegang papan tanda yang bertuliskan, "Apakah kita sudah hebat? Karena saya hanya merasa malu" di depan Naval Observatory, yang merupakan kediaman Wakil Presiden JD Vance.
Demonstrasi dua minggu lalu mencatatkan jumlah peserta mencapai puluhan ribu, menjadikannya sebagai protes terbesar melawan Trump sejak dia menjabat pada bulan Januari.
protes Trump kebijakan Amerika Serikat demonstrasi