Eropa mengalami pemanasan iklim yang sangat signifikan, dengan tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas sejak catatan cuaca dimulai. Menurut laporan terbaru dari Copernicus, layanan iklim Uni Eropa, dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu di Eropa telah meningkat hingga 1,5 derajat Celsius. Laporan ini menyoroti banyak dampak negatif yang diakibatkan oleh perubahan iklim, termasuk badai, curah hujan ekstrem, gelombang panas, dan kebakaran hutan, yang diperkirakan menyebabkan kerugian lebih dari 18 miliar Euro.
Florence Rabier, seorang ahli meteorologi yang memimpin Pusat Prakiraan Cuaca Menengah Eropa, mengatakan, "Eropa adalah kontinen yang paling cepat menghangat dan kini mengalami tahun terpanas dalam sejarah pencatatan cuaca."
Laporan ini juga mengonfirmasi informasi yang telah dirilis oleh Copernicus pada bulan Januari lalu, yang menyatakan bahwa 2024 adalah tahun rekor kedua berturut-turut setelah 2023, dengan suhu rata-rata di Eropa pertama kalinya melewati ambang batas 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Hampir setengah dari tahun ini lebih hangat dibandingkan dengan rata-rata jangka panjang, dan 44 hari termasuk yang terpanas sejak pencatatan dimulai.
Salah satu dampak besar dari peningkatan suhu ini adalah pencairan gletser di Pegunungan Alpen yang terjadi dengan sangat cepat. Di daerah Eropa yang terletak di utara Lingkaran Arktik, es kehilangan massa lebih banyak dari sebelumnya. Arktik sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling cepat mengalami pemanasan di dunia. Sebagai contoh, di Spitsbergen, Norwegia, suhu musim panas tahun lalu tercatat 2,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata musim panas sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya dampak perubahan iklim yang kini semakin dirasakan di Eropa, dan menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Eropa pemanasan iklim cuaca Copernicus WMO