Ashley Thompson, CEO dari merek oatmeal asal Chicago, Mush, sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan fluktuasi harga bahan baku utama mereka, yaitu oat, yang selama ini diimpor dari Kanada. Situasi ini muncul setelah adanya kebijakan tarif global yang diterapkan oleh pemerintahan Trump, yang berpotensi mempengaruhi biaya produksi dan keuntungan perusahaan.
Oat merupakan bahan penting dalam produk Mush, yang juga menggunakan buah-buahan dari Kanada untuk memberikan rasa pada oatmeal mereka serta plastik untuk kemasan. Meskipun saat ini oat masih dilindungi oleh celah perdagangan bebas, perusahaan sudah merasakan dampak dari kemungkinan tarif yang akan diberlakukan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Mush, terutama di waktu yang krusial bagi bisnis mereka.
“Kami sudah bersiap untuk menghadapi biaya tambahan yang mungkin timbul akibat perubahan ini,” kata Thompson. Dia menambahkan bahwa perusahaan akan berusaha untuk menyerap biaya tersebut agar tidak membebani konsumen. Retaliasi dari Kanada juga menjadi perhatian, dan Mush bertekad untuk tetap menjaga kualitas produknya meski harus menghadapi tantangan baru.
Dalam industri makanan, harga bahan baku sangat berpengaruh terhadap keuntungan. Oleh karena itu, Mush harus cermat dalam merencanakan strategi bisnisnya. Perusahaan ini dikenal dengan produk oatmeal yang sehat dan praktis, sehingga penting bagi mereka untuk tetap menawarkan harga yang bersaing.
Dengan kondisi yang tidak menentu ini, Ashley Thompson dan timnya harus beradaptasi dengan cepat. Mereka berharap dapat terus beroperasi dengan baik meskipun dalam situasi yang penuh tantangan. Keputusan yang diambil sekarang akan sangat mempengaruhi masa depan Mush dan keberlanjutan bisnis mereka.
Mush Ashley Thompson oat Kanada tarif bisnis