Pada tanggal 2 April, Presiden Donald Trump menyatakan sebagai "Hari Pembebasan". Pada hari ini, kebijakan tarif baru yang bertujuan untuk "membebaskan" Amerika Serikat mulai berlaku. Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi produk-produk Amerika dari persaingan yang dianggap tidak adil dari negara lain, terutama melalui pajak, perdagangan, dan regulasi.
Namun, banyak yang percaya bahwa kebijakan ini dapat berdampak negatif bagi perekonomian Amerika. Menurut Dylan Matthews dari Vox, tindakan ini dapat membuat Amerika semakin miskin dan merusak hubungan dengan sekutu-sekutu terdekat.
Asal-usul kebijakan ini ternyata cukup dalam, dimulai dari sebuah lelang piano yang kalah oleh seorang kolektor Jepang pada tahun 1988. Selain itu, ada juga kajian yang dikenal sebagai "China shock" yang dikeluarkan pada tahun 2013. Kajian tersebut menunjukkan bahwa industri manufaktur di Amerika mengalami kerugian akibat barang-barang impor dari Cina. Namun, kajian itu tidak mendukung kebijakan drastis yang kini didorong oleh Trump.
Saat ini, banyak orang dari berbagai kalangan politik mendukung kebijakan tarif ini. Mereka berpandangan bahwa tarif diperlukan untuk melindungi lapangan pekerjaan di Amerika. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa dampak jangka panjang dari kebijakan ini justru akan merugikan masyarakat, dengan warga Amerika harus membayar lebih mahal untuk barang-barang yang mereka beli di masa depan.
Dengan demikian, hari ini menandai awal dari kebijakan yang kontroversial. Masyarakat dan ekonom akan terus memantau bagaimana kebijakan ini akan mempengaruhi perekonomian dan hubungan internasional Amerika ke depan.
Donald Trump Hari Pembebasan kebijakan tarif ekonomi perdagangan