Negara-negara di seluruh dunia menunjukkan berbagai reaksi terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memberlakukan tarif global baru. Langkah ini dianggap sebagai perubahan besar dalam norma perdagangan internasional sejak Perang Dunia II.
Pada hari yang disebutnya "Hari Pembebasan", Trump menerapkan tarif yang diklaimnya sebagai tarif "timbal balik" terhadap beberapa negara. Dia menuduh Uni Eropa (UE) telah "menipu" AS dan memberlakukan tarif sebesar 20% terhadap blok tersebut.
Ursula Von der Leyen, kepala UE, dan Robert Habeck, Wakil Kanselir Jerman, memperingatkan bahwa langkah ini dapat memiliki konsekuensi "serius" bagi jutaan orang di seluruh dunia. Von der Leyen menambahkan bahwa UE sudah mempersiapkan langkah-langkah untuk melawan tarif tersebut jika negosiasi tidak berhasil menyelesaikan konflik perdagangan dengan AS.
China, yang disebut Trump sebagai salah satu pelanggar terburuk, dikenakan tarif sebesar 34% pada barang-barang, di atas tarif 30% yang sudah ada. Dengan demikian, total tarif yang dikenakan menjadi setidaknya 54%. Kementerian Perdagangan China mendesak AS untuk "segera membatalkan" langkah tersebut, menyatakan bahwa hal ini akan merugikan kepentingan AS dan rantai pasokan internasional. Beijing juga menuduh AS melakukan praktik "perundungan sepihak yang khas".
Canada juga menyatakan akan memberikan respons dengan "tujuan dan kekuatan". Meskipun tidak akan terlibat dalam "balas dendam tarif", mereka akan mengumumkan "program komprehensif" untuk mengatasi masalah ini. Sementara itu, Australia, yang hanya terkena tarif dasar sebesar 10%, menolak langkah balasan. Perdana Menteri Anthony Albanese menolak pernyataan Trump bahwa tarif tersebut adalah timbal balik, mengatakan bahwa "tarif timbal balik seharusnya nol - bukan 10 persen".
Langkah-langkah ini menandakan meningkatnya ketegangan dalam hubungan perdagangan internasional dan dapat memengaruhi ekonomi global secara keseluruhan. Banyak negara kini bersiap untuk mengambil tindakan lebih lanjut tergantung pada perkembangan yang terjadi di masa mendatang.
tarif global reaksi negara Donald Trump perdagangan ekonomi