Dalam lima tahun terakhir, penjualan minuman tanpa alkohol dalam kaleng mengalami peningkatan yang signifikan. Menurut data dari lembaga riset pasar NIQ, total volume penjualan meningkat hampir 47 persen, mencapai lebih dari satu juta ton. Data ini mencakup penjualan di toko makanan, toko obat, pasar minuman, dan pom bensin, namun tidak termasuk kios.
Minuman yang termasuk dalam kategori ini meliputi berbagai jenis seperti cola, limun, minuman energi, campuran jus, dan es teh. Menurut Petra Ossendorf, seorang ahli konsumsi dari NIQ, minuman dalam kaleng sangat diminati oleh kalangan anak muda dan banyak dipromosikan melalui media sosial. "Banyak merek kini memperluas produk mereka dengan menambahkan minuman dalam kaleng," jelas Ossendorf.
Ia juga menjelaskan bahwa peningkatan permintaan ini disebabkan oleh kepraktisan dan kemudahan konsumsi minuman dalam kaleng saat bepergian. "Beberapa konsumen merasa terganggu dengan tutup botol PET yang baru, sehingga kaleng menjadi alternatif yang baik," tambahnya.
Namun, tidak semua orang setuju dengan tren ini. Para aktivis lingkungan mengkritik tingginya konsumsi energi yang dibutuhkan untuk memproduksi aluminium. Meskipun begitu, Ossendorf menyatakan bahwa banyak produsen percaya bahwa dampak lingkungan dari kaleng tidak seburuk yang dibayangkan. "Material ini dapat didaur ulang," ujarnya.
Dengan semakin banyaknya pilihan dan promosi yang dilakukan, tampaknya minuman dalam kaleng tanpa alkohol akan terus menjadi pilihan populer di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.
minuman kaleng tanpa alkohol penjualan anak muda