Karya filosofis yang ditulis oleh Søren Kierkegaard berjudul Concluding Unscientific Postscript memberikan pengalaman yang mendalam bagi pembacanya. Buku ini seolah-olah membawa kita melihat ke dalam sebuah peleburan api, di mana panas, cahaya, dan makna menyebar ke segala arah. Dalam karya ini, Kierkegaard mengeksplorasi tema-tema subjektivitas, ironi, humor, keputusasaan, dan iman yang semuanya berputar dalam tarian yang sangat liar.
Kierkegaard bukanlah seorang pengajar yang memberikan ajaran secara langsung; ia lebih cenderung untuk mengguncang pemikiran kita. Ia tidak hanya menyampaikan pernyataan, tetapi lebih kepada memprovokasi pembaca untuk merenungkan makna hidup mereka sendiri. Karya ini bukanlah sekadar buku ajaran, melainkan cermin yang memperlihatkan kedalaman jiwa pembacanya. Jika pembaca jujur, mereka mungkin akan merasakan ketidaknyamanan saat melihat refleksi diri mereka.
Sebagai pendiri eksistensialisme, Kierkegaard dikenal dengan konsep 'loncatan iman'. Namun, Postscript bukanlah sekadar pengantar menuju pemikiran Sartre atau Camus. Ia menulis tentang sebuah agama yang bukan sekadar keyakinan yang diucapkan, atau kelompok yang harus diikuti. Agama menurut Kierkegaard adalah sebuah paradoks yang harus dialami dan diderita.
Walaupun terdengar seperti ekstremisme Protestan, pemikiran Kierkegaard lebih dalam dari itu. Ia tidak berdiri di atas mimbar seperti para reformis lainnya, tetapi di balik topeng. Nama samaran yang digunakannya, Johannes Climacus, bukanlah seorang pengkhotbah, melainkan sosok yang mendorong kita bukan hanya untuk percaya, tetapi untuk menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan.
Yang terpenting bukanlah isi dari keyakinan itu sendiri, tetapi komitmen untuk menghayatinya. Bukan sekadar ide, tetapi penghayatan batin terhadap ide tersebut. Menurut Kierkegaard, seseorang tidak bisa berpikir dirinya menjadi seorang Kristen, tetapi harus mengalaminya, bahkan mungkin meragukannya, dan berdiri dengan gemetar di hadapannya.
Ia menertawakan pemikiran Hegel, tetapi pada akhirnya mengakui—melalui cara yang tidak biasa, melalui paradoks dan hasrat—sosok yang abstrak dalam pemikiran Hegel: Sang Tuhan-manusia. Hegel mengatur sistem pemikiran tentang Kristus; sementara Kierkegaard membuatnya menjadi sebuah skandal. Namun, dalam skandal tersebut, ia menemukan penyelesaian dari kesenjangan yang dialami manusia.
Dengan demikian, orang yang menolak sistem justru membuat iman menjadi sistematis. Seseorang yang mencemooh tokoh sejarah dunia, pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Ini adalah chiasmus yang nyata.
Ini bukan sekadar ironi; ini adalah ironi ilahi. Dalam pandangan Kierkegaard, ironi bukanlah akhir dari segalanya; ia adalah api yang membersihkan lahan agar kesungguhan dapat tumbuh. Ia menghancurkan norma-norma etika, mengungkapkan nilai estetika, dan meninggalkan pembaca di tepi jurang: melompat atau tidak. Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak mengambil keputusan sama sekali juga merupakan bentuk keputusasaan.
Walaupun saya tidak mengikuti jalan pemikiran Kierkegaard, saya mengagumi medan yang telah ia petakan. Karya ini adalah sebuah hasil yang luar biasa, penuh dengan provokasi dan wahyu. Bagi mereka yang tertarik pada cuaca batin kehidupan, pada garis antara iman dan absurditas, Kierkegaard adalah nabi yang abadi.
Kierkegaard Postscript iman keberadaan filsafat