Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Kekerasan Terhadap Muslim di Tengah Perayaan Holi dan Ramadan

Pada tahun ini, bulan Ramadan bertepatan dengan perayaan festival Holi yang dirayakan oleh umat Hindu. Di berbagai kota, kelompok nasionalis Hindu memanfaatkan prosesi Holi sebagai alasan untuk melakukan tindakan kekerasan dan penyerangan terhadap umat Muslim. Hal ini menunjukkan pola yang sudah sering terlihat: apa yang dimulai sebagai "perayaan" dengan cepat berubah menjadi kekerasan yang terkoordinasi.

Sering kali, ketika kekerasan meletus, korban justru mendapatkan tuduhan. Umat Muslim yang melakukan protes akan dihukum, sedangkan jika mereka memilih untuk diam, itu dianggap sebagai persetujuan. Ketika ada yang kehilangan nyawa, dunia seakan mengabaikannya dan terus berlalu.

Di tengah semua ini, mereka yang berkuasa terus membakar api Islamofobia, tanpa ada konsekuensi bagi mereka yang mengganggu, menyerang, atau membunuh umat Muslim. Justru, mereka mendapatkan imbalan.

Sangat melelahkan untuk bangun setiap pagi di negara yang menganggap keberadaanmu sebagai provokasi. Mengetahui bahwa kapan saja tempat ibadahmu bisa diserang, bisnis ditutup, dan doa dianggap kriminal.

Normalisasi situasi ini adalah bagian terburuk dari semuanya. Kejadian-kejadian kekerasan ini tidak lagi memicu kemarahan seperti sebelumnya. Dulu, ketika sekelompok orang menyerang sebuah masjid, hal itu akan menjadi berita besar. Kini, semua itu hanya menjadi bagian dari rutinitas. Kita hanya mendapatkan berita singkat, mungkin sebuah video viral, lalu kembali ke kesunyian - karena selalu ada kejadian berikutnya.

Konsep keadilan pun mengalami perubahan. Ini bukan hanya tentang negara yang enggan menghukum kelompok nasionalis Hindu. Ini juga tentang sistem yang secara aktif menghukum mereka yang berbicara. Umat Muslim menderita dua kali: pertama di tangan kelompok mob, kedua di tangan polisi, pengadilan, dan pemerintah. Ketika seorang pria Muslim dibunuh, polisi justru membidik keluarganya. Ketika seorang wanita Muslim berbicara, ia akan diintimidasi, diancam, dan dilecehkan.

Inilah kenyataan sehari-hari kita. Ini bukan hanya tentang momen-momen kekerasan yang besar. Ini bukan sekadar tentang ujaran kebencian dan kerusuhan. Ini tentang membuat hidup tidak layak dijalani dalam cara-cara kecil yang terus-menerus.

library_books Middleeasteye