Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Doktorandi Turki Ditangkap di Depan Universitas Tufts

BOSTON, Massachusetts – Seorang mahasiswa doktoral asal Turki ditangkap oleh petugas dari Departemen Keamanan Dalam Negeri di dekat apartemennya, seperti dilaporkan oleh beberapa media berdasarkan pernyataan presiden universitas tersebut. Penangkapan terjadi saat mahasiswa tersebut sedang dalam perjalanan untuk berbuka puasa bersama teman-temannya.

Dalam rekaman kamera pengawas, terlihat beberapa orang berpakaian sipil, sebagian mengenakan hoodie, mendekati wanita tersebut. Ia terlihat berteriak sebelum dikelilingi dan dibawa pergi oleh petugas. Andrea Joy Campbell, Jaksa Agung Massachusetts, mengatakan bahwa gambar penangkapan itu sangat mengganggu. "Ini bukan tentang keamanan publik, tetapi tentang intimidasi," ujarnya.

Reaksi dari pihak universitas pun cukup kuat. Para profesor di Universitas Tufts merasa terkejut dengan penangkapan tersebut. Mahasiswa doktoral ini diketahui sebagai co-penulis artikel di sebuah koran mahasiswa pada tahun 2024, yang menyerukan universitas untuk mengakui adanya indikasi jelas mengenai genosida terhadap rakyat Palestina.

Pemerintah AS saat ini semakin gencar melakukan tindakan terhadap mahasiswa asing yang dituduh mendukung Hamas. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa lebih dari 300 visa telah dicabut oleh Kementerian Luar Negeri. Rubio menegaskan bahwa Washington akan mencabut setiap visa yang telah dikeluarkan jika mahasiswa terlibat dalam tindakan seperti vandalisme di universitas, pelecehan terhadap mahasiswa lain, okupasi gedung, atau provokasi kerusuhan.

Namun, Rubio tidak menyebutkan apakah mahasiswa Turki tersebut terlibat dalam tindakan-tindakan tersebut. Tindakan pemerintah ini menuai kritik sebagai serangan terhadap kebebasan berpendapat. Pemerintahan Presiden Donald Trump berpendapat bahwa beberapa aksi protes dianggap antisemitisme dan dapat merusak kebijakan luar negeri AS.

Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi mahasiswa internasional di Amerika Serikat dalam menyuarakan pendapat mereka tanpa takut akan konsekuensi dari pemerintah.

library_books Tagesschau