Mulai Maret 2026, para pengunjung yang menginap di Kyoto, Jepang, akan dihadapkan pada biaya akomodasi yang lebih tinggi. Hal ini terjadi setelah para pembuat undang-undang setempat menyetujui rencana untuk meningkatkan pajak akomodasi sebagai upaya untuk mengatasi masalah overtourism.
Pada hari Selasa, majelis kota Kyoto meloloskan proposal yang diajukan oleh pemerintah kota untuk meningkatkan pajak tersebut. Pajak akomodasi baru ini akan dibatasi hingga 10.000 yen atau sekitar 67 dolar AS per orang setiap malam. Ini menjadikan Kyoto sebagai kota dengan pajak akomodasi tertinggi di Jepang setelah rencana ini diimplementasikan.
Keputusan ini diambil sebagai langkah untuk mengurangi dampak dari jumlah wisatawan yang berlebihan, yang sering kali menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan budaya setempat. Overtourism menjadi perhatian utama di banyak kota wisata populer di seluruh dunia, termasuk Kyoto, yang terkenal dengan kuil-kuilnya dan keindahan alamnya.
Dengan pajak yang lebih tinggi, pemerintah berharap dapat mengurangi jumlah pengunjung yang datang ke kota ini, serta meningkatkan pendapatan yang bisa digunakan untuk pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur kota.
Kyoto, yang merupakan salah satu destinasi wisata utama di Jepang, dikenal dengan warisan budayanya yang kaya. Namun, tingginya jumlah wisatawan yang datang setiap tahun telah menimbulkan tantangan baru bagi pemerintah kota dalam menjaga kelestarian tempat-tempat bersejarah dan alam.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, baik bagi lingkungan maupun bagi masyarakat setempat yang mungkin merasa terbebani oleh jumlah pengunjung yang terus meningkat. Dengan pajak akomodasi yang lebih tinggi, para wisatawan diharapkan lebih mempertimbangkan pilihan mereka sebelum mengunjungi kota yang indah ini.
Dengan adanya perubahan ini, Kyoto akan menjadi contoh bagi kota-kota lain di Jepang dan di seluruh dunia dalam mengelola pariwisata secara berkelanjutan.
Kyoto pajak akomodasi wisata Jepang overtourism