Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, baru-baru ini memberikan peringatan kepada Amerika Serikat mengenai normalisasi hubungan dengan Israel. Ia menekankan bahwa meskipun ia mendukung hubungan tersebut, banyak rakyat Arab tidak setuju.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali bangsa Arab mengalami keterpurukan, mereka selalu bangkit kembali. Contohnya, setelah perang tahun 1948 dan berdirinya Israel, Mesir membutuhkan waktu empat tahun untuk menggulingkan raja dan mendirikan republik. Pada tahun 1977, Presiden Anwar Sadat mengunjungi Yerusalem untuk membuka babak baru, namun empat tahun kemudian ia terbunuh. Penggantinya, Hosni Mubarak, juga digulingkan hanya dua tahun setelah perang Israel di Gaza pada tahun 2008-2009.
Setiap upaya untuk mendeklarasikan perdamaian tanpa mencapai penyelesaian yang adil bagi rakyat Palestina hanya akan menumbuhkan benih konflik di masa depan. Apa yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Presiden AS, Donald Trump, berpotensi menimbulkan konflik yang jauh lebih besar di kawasan ini. Tindakan mereka justru memperlemah posisi para pemimpin yang bergantung pada Israel dan Amerika.
Trump memandang negara-negara Teluk sebagai sumber kekayaan. Arab Saudi telah menyatakan bahwa mereka akan menginvestasikan $1 triliun ke dalam ekonomi AS, sementara Uni Emirat Arab berencana untuk menginvestasikan $1,4 triliun. Kuwait juga ditekan untuk berkontribusi. Namun, yang menjadi sorotan adalah bahwa tidak ada negara lain, kecuali Israel, yang memiliki kendali dalam situasi ini.
Rakyat Arab merasa terpuruk dengan situasi ini. Mereka mempertanyakan, mengapa para pangeran kaya mereka bersedia menghabiskan $2 triliun untuk Amerika, sementara mereka tidak bisa menyediakan air minum untuk Gaza? Para pemimpin mereka terkesan tidak berdaya atau bahkan terlibat dalam masalah ini.
Ketenangan yang ingin dibangun oleh Witkoff jauh dari stabil. Seperti semua bom yang digunakan Israel di Gaza, tindakan Trump justru merusak sisa-sisa legitimasi yang dimiliki oleh setiap rezim Arab yang tunduk kepadanya dan Netanyahu. Dalam hal ini, penilaian Witkoff tentang Trump sebagai seorang revolusioner mungkin benar, tetapi revolusinya tidak akan menghasilkan apa yang ia harapkan.
Arab Israel Palestina Mohammed bin Salman hubungan internasional