Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Aksi Protes Tolak Militerisme di Surabaya

Pada hari Senin, 24 Maret 2025, warga Surabaya mengadakan aksi protes besar-besaran di depan Gedung Negara Grahadi. Mereka menuntut agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali ke barak dan menolak segala bentuk militerisme yang dinilai merugikan rakyat.

Protes ini dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, di mana ribuan peserta berkumpul untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap keberadaan militer di dalam kehidupan sipil. "Waktunya menghadapi mesin pembunuh rakyat," teriak salah satu orator di tengah kerumunan.

Peserta aksi mengajak semua lapisan masyarakat, termasuk pelajar dan pekerja, untuk turun ke jalan. Mereka bertekad untuk terus memenuhi jalanan hingga tuntutan mereka didengar. "Mari berkumpul dan tumpahkan kemarahanmu di jalanan sekali lagi," tambahnya.

Dalam aksi tersebut, para demonstran mengekspresikan penolakan mereka terhadap dwifungsi TNI, yaitu peran ganda yang menggabungkan fungsi militer dan sipil. Mereka percaya bahwa militer harus berfokus pada keamanan negara dan tidak ikut campur dalam urusan sipil.

Meski aksi ini berlangsung damai, suasana di sekitar Gedung Negara Grahadi cukup tegang. Beberapa peserta aksi berusaha untuk bernegosiasi dengan pihak keamanan agar dapat menyampaikan aspirasi mereka tanpa adanya kekerasan.

Seorang peserta aksi mengatakan, "Kami akan terus tumpah ruah di jalanan sampai negara dan militerisme tidak sewenang-wenang. Kami ingin agar suara rakyat didengar!"

Protes ini adalah bagian dari gerakan yang lebih besar untuk menuntut perubahan dalam kebijakan militer di Indonesia. Dengan semangat yang tinggi, para peserta aksi mengangkat spanduk bertuliskan "PUKUL MUNDUR TNI KEMBALI KE BARAK!" dan "MILITERISME, LAWAN, LAWAN, LAWAN, DAN HANCURKAN!"

Warga Surabaya berharap, melalui aksi protes ini, pemerintah akan mempertimbangkan kembali peran dan fungsi TNI dalam masyarakat sipil. Mereka ingin memastikan bahwa hak-hak rakyat dilindungi dan tidak terancam oleh keberadaan militer yang terlalu aktif dalam urusan sehari-hari.

Aksi ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya keterlibatan dalam proses demokrasi dan berani menyuarakan pendapat mereka. Dengan harapan, mereka mampu menciptakan perubahan positif bagi masa depan bangsa.

library_books Lamrisurabaya