Militer Israel telah mengirimkan divisi tank ke kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki untuk pertama kalinya sejak Intifada kedua, yang berlangsung dari tahun 2000 hingga 2005. Pengiriman ini menunjukkan peningkatan ketegangan di wilayah tersebut.
Menurut Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, militer akan tinggal di beberapa kamp pengungsi di Tepi Barat selama "tahun mendatang". Ini berarti sekitar 40.000 warga Palestina yang telah diusir dari rumah mereka tidak akan diizinkan untuk kembali. Katz menyatakan, "Saya telah menginstruksikan IDF [Angkatan Bersenjata Israel] untuk bersiap-siap untuk tinggal lama di kamp-kamp yang telah dibersihkan selama tahun mendatang dan tidak mengizinkan penduduk kembali serta teror kembali dan tumbuh."
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga mengarahkan militer untuk melakukan operasi yang "intensif" di Tepi Barat setelah serangkaian ledakan bus di Tel Aviv pada hari Kamis, yang dianggap sebagai upaya serangan besar-besaran. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Militer Israel telah melakukan operasi militer berskala besar di Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir. Banyak warga Palestina terpaksa mengungsi dari kamp pengungsi, sementara rumah dan infrastruktur mereka dihancurkan.
Pada hari Minggu pagi, tentara Israel mulai menghancurkan infrastruktur di Qabatiya, yang terletak di selatan Jenin, menggunakan buldoser. Dalam pernyataannya, gubernur Jenin mengumumkan bahwa jam malam selama 48 jam diberlakukan di Qabatiya mulai pagi ini.
Situasi di Tepi Barat semakin tegang dan menjadi sorotan internasional. Banyak pihak menyerukan penyelesaian damai untuk konflik yang berkepanjangan ini.
militer Israel Jenin Tepi Barat Intifada operasi militer