Jakarta, 21 Februari 2025 – SPAC, atau perusahaan akuisisi tujuan khusus, kembali menunjukkan popularitasnya di tahun 2025. Menurut data dari Renaissance Capital, saat ini sudah ada 12 kesepakatan yang telah dilakukan dan 17 pengajuan awal yang telah diajukan tahun ini. Ini merupakan lonjakan besar dibandingkan dengan tahun lalu, di mana hanya ada tiga SPAC yang berhasil melaksanakan kesepakatan dan tiga yang mengajukan permohonan.
Dengan perkembangan ini, sektor SPAC diperkirakan akan mencatat awal tahun terbesar sejak 2019, yang merupakan tahun rekor bagi alternatif penawaran umum perdana (IPO). SPAC adalah perusahaan yang terdaftar di bursa dan memiliki waktu hingga dua tahun untuk mengakuisisi bisnis, yang kemudian menjadi perusahaan publik.
Popularitas SPAC meningkat pesat selama masa pandemi, karena menjadi cara yang relatif cepat bagi perusahaan untuk go public tanpa melalui banyak prosedur dan persyaratan regulasi yang harus dipenuhi dalam IPO tradisional. Namun, tren ini mulai menurun saat dunia mulai pulih dari pandemi, dan banyak SPAC yang tidak berhasil menemukan target akuisisi yang sesuai, sehingga terpaksa mengembalikan dana yang telah mereka kumpulkan kepada para investor.
Meskipun SPAC sering dianggap sebagai kendaraan investasi yang kurang baik, muncul pertanyaan mengapa mereka tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Para analis pasar dan investor kini mulai memperhatikan kembali potensi yang dimiliki oleh SPAC, yang dapat menawarkan peluang baru di pasar.
Kebangkitan SPAC ini bisa menjadi sinyal positif bagi investor yang mencari alternatif investasi di pasar yang semakin kompetitif. Dengan banyaknya transaksi yang terjadi, SPAC mungkin dapat menawarkan lebih banyak kesempatan bagi perusahaan untuk berkembang dan bagi investor untuk mendapatkan keuntungan.
Pada akhirnya, meskipun ada risiko yang terlibat, SPAC menunjukkan bahwa mereka masih dapat menjadi pilihan menarik di dunia investasi saat ini.
SPAC perusahaan akuisisi IPO investasi pasar saham