Pada acara Münchner Sicherheitskonferenz, Vizepräsident Amerika Serikat, J.D. Vance, memberikan kritik tajam terhadap para sekutu Eropa. Ia memperingatkan bahwa demokrasi sedang terancam. Dalam pernyataannya, Vance secara tidak langsung merujuk pada perdebatan di Jerman mengenai pemisahan dari partai AfD (Alternative für Deutschland). Ia menekankan, "Tidak ada tempat untuk batasan-batasan. Demokrasi didasarkan pada prinsip suci bahwa suara rakyat harus dihargai."
Vance menegaskan bahwa kita harus mempertahankan prinsip ini, atau tidak sama sekali. Pernyataan ini memicu reaksi dari pejabat Eropa, termasuk Menhan Jerman, Boris Pistorius, yang langsung membalas kritik tersebut. Dalam pidatonya, Pistorius mengatakan, "Jika saya mengerti dengan benar, dia membandingkan keadaan di beberapa bagian Eropa dengan rezim otoriter. Itu tidak dapat diterima dan bukan Eropa serta demokrasi yang saya kenal dan saya perjuangkan."
Pistorius melanjutkan dengan menegaskan bahwa dalam demokrasi, setiap pendapat memiliki suara. "Ini memungkinkan partai-partai ekstrem seperti AfD untuk melakukan kampanye pemilihan secara normal, sama seperti partai lainnya. Itulah demokrasi," katanya.
Selain itu, sebelum Vance berbicara, Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, juga mengkritik pemerintahan AS. Ia menyatakan bahwa administrasi baru Amerika memiliki pandangan dunia yang berbeda. "Pandangan ini tidak memperhatikan aturan yang sudah ada serta kemitraan dan kepercayaan yang telah dibangun," ujarnya dalam pidato pembukaannya.
Steinmeier menekankan bahwa menjaga ide komunitas internasional akan menjadi tugas utama dalam beberapa tahun mendatang. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa, serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan demokrasi dan kerjasama internasional.
Vizepräsident Amerika Eropa Demokratie Sicherheitskonferenz kritik