Sebuah studi yang dilakukan oleh para ilmuwan di Inggris menunjukkan bahwa penggunaan obat serangga pada hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, dapat berdampak fatal bagi anak burung. Para pemilik hewan peliharaan sering kali menggunakan produk untuk mengatasi masalah seperti kutu, tungau, dan serangga lainnya. Namun, obat-obatan ini ternyata memiliki efek samping yang berbahaya bagi satwa liar.
Menurut Cannelle Tassin de Montaigu, seorang biologi dari Universitas Sussex dan penulis studi tersebut, banyak burung, khususnya burung hutan, mengumpulkan bahan-bahan seperti lumut dan bulu untuk membuat sarang mereka hangat. Sekitar 75 persen burung hutan diketahui menggunakan bulu hewan, termasuk bulu anjing dan kucing, untuk menghangatkan sarang mereka.
Pada umumnya, di daerah perkotaan, burung sering kali mengambil bulu dari hewan peliharaan. Namun, bulu-bulu ini sering kali terpapar insektisida yang digunakan untuk mengatasi hama pada hewan peliharaan. Obat ini bisa ditemukan dalam bentuk kalung anjing yang melawan kutu atau dalam bentuk tetes yang dioleskan pada kulit hewan. Obat tersebut dapat bertahan dalam bulu hewan selama berbulan-bulan.
Ketika bulu yang terkontaminasi ini digunakan untuk membangun sarang, racun dapat menembus cangkang telur dan mempengaruhi perkembangan embrio di dalamnya. Penelitian menunjukkan bahwa pada sarang yang memiliki konsentrasi insektisida yang lebih tinggi, jumlah anak burung yang mati lebih banyak. Selain itu, banyak telur yang tidak menetas menjadi anak burung.
Para pemilik anjing dan kucing yang merasa bingung tentang cara terbaik untuk melindungi hewan peliharaan mereka dari kutu dan hama lainnya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter hewan. Hal ini penting agar mereka dapat menggunakan produk yang aman dan tidak membahayakan satwa liar.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pentingnya kesadaran akan dampak penggunaan obat serangga pada hewan peliharaan terhadap ekosistem, terutama bagi spesies burung yang rentan.
obat serangga burung hewan peliharaan risiko