Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, baru-baru ini mendapatkan kehormatan dari Paus Fransiskus. Dalam sebuah pertemuan di Vatikan, Roma, Italia, pada hari Selasa, 4 Februari 2025, Paus meminta Megawati untuk menjadi penasihat Global Scholas Occurrentes. Organisasi ini berfokus pada pendidikan dan kebudayaan di kalangan anak muda dari berbagai negara dan agama.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati mengenang peran penting ayahnya, Soekarno, yang merupakan proklamator kemerdekaan Indonesia. Ia juga berbagi tentang ajaran Pancasila, yang menjadi ideologi bangsa Indonesia. Megawati sampai menahan tangis saat menceritakan betapa berarti ajaran tersebut bagi masyarakat Indonesia.
Sebelum pertemuan di Vatikan, Megawati juga telah menerima audiensi dari José María del Corral, Presiden Global Scholas Occurrentes, di kediamannya yang terletak di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, pada 2 Oktober 2024. Pertemuan itu menjadi awal dari kerja sama yang berfokus pada pengembangan pendidikan dan kebudayaan yang lebih baik bagi anak muda.
Global Scholas Occurrentes adalah sebuah inisiatif yang didirikan oleh Paus Fransiskus untuk menghubungkan anak muda dari berbagai latar belakang. Organisasi ini berupaya menciptakan jembatan antara budaya dan agama melalui pendidikan, sehingga anak muda dapat saling memahami dan menghormati satu sama lain.
Kehormatan yang diberikan kepada Megawati menunjukkan pengakuan internasional terhadap kontribusi Indonesia dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Ini juga memberikan kesempatan bagi Megawati untuk berbagi nilai-nilai Pancasila kepada dunia, dan memperkuat peran Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Dengan dilantiknya Megawati sebagai penasihat, diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pemimpin di seluruh dunia untuk memperhatikan pendidikan dan kebudayaan sebagai aspek penting dalam membentuk masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
Paus Fransiskus Megawati Soekarnoputri Global Scholas Occurrentes pendidikan kebudayaan