Mesir menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima pengungsi Palestina dari Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh pejabat AS di kawasan itu kepada Gedung Putih dalam beberapa hari terakhir, menjelang meningkatnya tekanan dari pemerintahan Trump terhadap Kairo.
Pernyataan ini menambah ketegangan antara diplomat dan Gedung Putih, di mana Presiden Donald Trump dan penasihatnya bertentangan dengan para diplomat karier yang berusaha menyampaikan pesan kepada pejabat Arab.
Menurut seorang diplomat senior AS di kawasan tersebut, proposal kontroversial untuk memindahkan orang-orang Palestina dianggap dapat mengganggu stabilitas Mesir, yang selama ini menjadi sekutu dekat AS. Diplomat tersebut juga menyebut bahwa Mesir tidak akan tergoda oleh insentif keuangan.
Usulan untuk memindahkan orang-orang Palestina ke Mesir, Yordania, atau negara ketiga lainnya dianggap sebagai pembersihan etnis. Tindakan ini dapat melanggar hukum internasional.
Minggu lalu, Menlu AS Marco Rubio membahas topik ini dalam telepon dengan Menlu Mesir, Badr Abdelatty. Sumber yang sama mengungkapkan bahwa Kairo mengambil pernyataan Trump dengan serius. Mesir bersiap menghadapi kemungkinan bahwa bantuan keamanan tahunan sebesar $1,3 miliar dari AS dapat dihentikan jika pemerintahan Trump mencoba memanfaatkannya sebagai tekanan.
Sejak dimulainya perang Israel di Gaza, Mesir telah menerima sekitar 200.000 pengungsi Palestina. Di Kairo, sebuah kawasan yang dikenal sebagai "Gaza Kecil" telah muncul. Namun, duta besar Palestina di Kairo memberikan angka yang lebih rendah, menyebutkan bahwa jumlah pengungsi yang masuk berkisar antara 80.000 hingga 100.000.
Seorang diplomat Mesir juga menyatakan bahwa Kairo sedang mempertimbangkan untuk mengorganisir protes di depan kedutaan AS sebagai respons terhadap tekanan ini.
Mesir Palestina Gaza Trump pengungsi