Pasukan North Korea yang berjuang bersama tentara Rusia di daerah perbatasan Kursk melawan Ukraina dilaporkan telah ditarik mundur. Menurut informasi dari Badan Intelijen Korea Selatan (NIS), sejak pertengahan Januari, pasukan North Korea tidak lagi terlibat dalam pertempuran.
Alasan utama dari mundurnya pasukan tersebut diduga adalah tingginya jumlah korban yang dialami oleh tentara North Korea. Sebelumnya, Ukraina juga telah mengumumkan pada hari Jumat bahwa pasukan North Korea telah ditarik dari garis depan. Dalam laporan dari Korea Selatan, Ukraina, dan Amerika Serikat, disebutkan bahwa sejak bulan Oktober, sekitar 11.000 tentara North Korea telah dikerahkan di wilayah Kursk. Mereka ditugaskan untuk membantu merebut kembali daerah yang berada di bawah kendali Ukraina setelah serangan mendadak pada bulan Agustus.
Namun, Rusia hingga saat ini belum memberikan konfirmasi atau bantahan mengenai informasi tersebut.
Di sisi lain, sebuah serangan roket yang dilancarkan oleh Rusia di kota Isjum, di bagian timur laut Ukraina, menyebabkan lima orang tewas dan lebih dari 30 lainnya terluka, menurut laporan dari pihak Ukraina. Tiga orang diantaranya harus menjalani operasi akibat serangan tersebut.
Dalam perkembangan lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaitkan bantuan untuk Ukraina dengan akses terhadap sumber daya alam, seperti logam tanah jarang. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa dia telah menawarkan untuk membayar bantuan dari negara-negara barat dengan sumber daya alam Ukraina sebelum pemilihan presiden AS. "Kami terbuka untuk mengembangkan semua ini dengan mitra kami yang membantu kami mempertahankan negara kami dan mengusir musuh dengan senjata, kehadiran, serta paket sanksi," ujarnya. Zelensky juga mengungkapkan bahwa dia telah membahas hal ini dengan Trump saat pertemuan pada bulan September 2024.
North Korea Ukraina Rusia Trump Isjum