Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Sejarah Nama Soekarno dan Cinta Wayangnya

Jakarta – Soekarno, yang lahir pada 6 Juni 1901, awalnya diberi nama Koesno oleh orang tuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Namun, karena Koesno kecil sering sakit, orang tuanya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Soekarno. Nama ini diambil dari tokoh Karna, seorang pahlawan dalam cerita Mahabharata yang dikenal sebagai anggota Pandawa Lima yang kuat namun berhati lembut.

Karna adalah anak dari Kunti, putri cantik yang mencintai Batara Surya, Dewa Matahari. Dengan nama Soekarno, ia tumbuh menjadi pecinta wayang kulit. Salah satu tokoh yang sangat disukai Bung Karno adalah Bima. Dalam dunia wayang, Bima atau Werkudara dikenal sebagai ksatria pemberani dan pahlawan yang jujur.

Ketika Bung Karno aktif menulis di surat kabar Hindia Belanda, Oetoesan Hindia, ia sering menggunakan nama Bima sebagai nama pena. Hal ini dilakukannya untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Saat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Bung Karno rutin menggelar pertunjukan wayang setiap tiga bulan di Istana Negara. Pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat. Warga diperbolehkan untuk datang dan menyaksikan pertunjukan yang dihadiri oleh berbagai dalang terkenal dari berbagai daerah, seperti Ki Nartosabdo dari Klaten dan Ki Gito Sewoko dari Blitar.

Ribuan orang memadati halaman Istana Negara untuk menyaksikan pertunjukan yang berlangsung semalam suntuk. Dengan cara ini, Bung Karno tidak hanya mempertahankan budaya wayang, tetapi juga mempererat hubungan antara pemerintah dan rakyat. Keberadaan wayang kulit sebagai bagian dari budaya Indonesia semakin diperkuat oleh kecintaan Bung Karno terhadap seni ini.

library_books Pdiperjuangan