Beirut, Lebanon – Nawaf Salam, yang saat ini menjabat sebagai presiden Mahkamah Internasional (ICJ), terpilih menjadi Perdana Menteri Lebanon pada hari Senin. Pemilihan ini terjadi setelah Salam mendapatkan dukungan dari 85 anggota parlemen dari total 128, setelah melalui hari konsultasi parlemen yang dipimpin oleh Presiden baru, Joseph Aoun.
Salam akan menggantikan Najib Mikati dan memiliki tugas penting untuk membentuk pemerintahan yang selama lebih dari dua tahun terakhir hanya berfungsi dalam kapasitas sementara. Pengangkatannya menjadi perdana menteri ini dilakukan meskipun tanpa dukungan dari para anggota parlemen Muslim Syiah di Lebanon, yang sebagian besar diwakili oleh Hezbollah dan gerakan Amal.
Sistem pemerintahan di Lebanon menerapkan pembagian kekuasaan berdasarkan sektarianisme, di mana presiden harus berasal dari kalangan Kristen Maronit, perdana menteri dari kalangan Muslim Sunni, dan ketua parlemen dari kalangan Muslim Syiah. Hal ini menunjukkan betapa rumit dan uniknya struktur pemerintahan di negara ini.
Nawaf Salam sebelumnya menjabat sebagai duta besar Lebanon untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari tahun 2007 hingga 2017. Setelah itu, ia bergabung dengan Mahkamah Internasional pada tahun 2018 dan terpilih sebagai presidennya pada bulan Februari tahun lalu.
Dengan pengalaman di bidang diplomasi dan hukum internasional, Salam diharapkan dapat membawa stabilitas dan kemajuan bagi Lebanon yang saat ini menghadapi berbagai tantangan politik dan ekonomi.
Nawaf Salam Perdana Menteri Lebanon Mahkamah Internasional Joseph Aoun