Kota Malang - Seorang mahasiswa Universitas Brawijaya, Dewi Retno Sari, membuat gebrakan terbaru di dunia pendidikan tinggi. Biasanya, mahasiswa menyusun skripsi berbasis riset ilmiah untuk tugas akhirnya. Namun, Dewi memilih cara berbeda. Ia menulis dan menerbitkan sebuah novel fiksi sejarah berjudul "Amarily Terjebak di Masa Lalu" sebagai tugas akhir.
Pada Selasa (5/8/2025), novel Dewi dibedah dalam sebuah forum akademik yang diadakan di Gedung A Fakultas Ilmu Budaya UB.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar membahas karya, tetapi juga sebagai jembatan antara dunia akademik dan industri kreatif.
Selain sebagai syarat kelulusan, karya ini menunjukkan bahwa mahasiswa bisa mengekspresikan kreativitasnya dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Dalam diskusi tersebut, hadir dosen pembimbing Diah Ayu Wulan, dosen penguji Yusri Fajar, dan Aditya EF yang menjadi pembedah karya.
Novel ini mengisahkan seorang gadis modern bernama Amarily Tan yang secara tak sengaja terjebak dalam tubuh bangsawan Dinasti Song bernama Amarily Chen.
Di tengah wabah misterius dan konflik politik kerajaan, Amarily harus menjadi pahlawan walau hanya berbekal pengalaman dasar dari Palang Merah Remaja.
"Saya mengadaptasi berbagai referensi sejarah dari perkuliahan, terutama mata kuliah sejarah Cina, tapi tokoh dan konflik utamanya murni fiksi. Saya ingin menunjukkan bahwa sejarah bisa hidup melalui cerita." jelas Dewi.
Lewat cerita berlatar sejarah dan konflik kontemporer, Dewi tidak hanya menunjukkan penguasaan materi akademik tetapi juga kemampuan storytelling yang menarik bagi pembaca muda.
Model tugas akhir ini merupakan bagian dari pendekatan baru di Fakultas Ilmu Budaya UB yang mulai memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan kemampuan mereka lewat karya kreatif.
Dosen pembimbing, Diah Ayu Wulan, menilai langkah ini sebagai bentuk kesiapan kampus menghadapi era interdisipliner.
"Melalui fiksi sejarah, mahasiswa dapat memperkaya literasi publik dan mendekatkan sejarah kepada generasi muda," terang Diah.
Sementara itu, Yusri Fajar memuji kreativitas Dewi, terutama dalam memberi nama dan karakter tokoh.
"Nama ‘Amarily’ terdengar sangat western, dan ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menerobos batas budaya melalui sastra," katanya.
Tidak hanya di ruang akademik, Dewi juga mempersiapkan diri untuk industri kreatif.
Ia menyusun, mencetak, dan mendistribusikan novelnya sendiri melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Harga novel ini berkisar antara Rp99.000 sampai Rp120.000, tergantung promosi yang sedang berlangsung.
"Semua saya biayai sendiri. Target saya sederhana, agar novel ini dikenal luas dan menjadi batu loncatan untuk karya berikutnya," ujar Dewi dengan penuh semangat.
Karya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa bisa berkreasi dan berkarya nyata yang relevan dengan masyarakat.
Karya Dewi menandai perubahan penting dalam pendidikan tinggi, khususnya bidang sastra dan humaniora.
Di tengah tekanan untuk selalu menulis karya ilmiah, Dewi menunjukkan bahwa ekspresi kreatif juga mampu menyampaikan nilai akademik dan berdampak luas.
"Ini membuktikan bahwa dunia kampus bisa menjadi ruang yang adaptif, tidak hanya sebagai tempat belajar teori, tetapi juga sebagai laboratorium untuk menghasilkan karya yang menyentuh masyarakat." tambah Diah Ayu.
Dengan demikian, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari karya sastra yang berbasis riset dan visi, sebagai kontribusi budaya yang menginspirasi.(df)*
mahasiswa novel sejarah Universitas Brawijaya karya kreatif pendidikan tinggi