Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Bantengan Nuswantara ke-17: Pertunjukan Seni Dari Panggung Tradisi Menuju Diplomasi Budaya Global

KOTA BATU – Gelaran tahunan Bantengan Nuswantara ke-17 yang berlangsung pada Sabtu, (3/7/2025), di Kota Batu, tak hanya menjadi ajang pertunjukan seni tradisional, tetapi juga berfungsi sebagai panggung diplomasi budaya. Acara ini mempertemukan pelaku seni lokal dengan komunitas internasional.

Sebanyak 135 grup bantengan dari berbagai wilayah Malang Raya tampil dalam parade budaya yang kaya akan makna spiritual dan kultural. 

Pertunjukan ini dipimpin oleh seniman lintas negara Agus Tubrun, menunjukkan arah baru dalam pelestarian seni tradisional yang kolaboratif dan terbuka.

Sejumlah tamu dari berbagai negara seperti Jepang, Kolombia, Australia, Malaysia, Hongkong, Meksiko, dan Chile turut hadir dan meramaikan acara. Mereka adalah bagian dari komunitas budaya internasional yang telah rutin hadir sejak tahun 2016 untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.

“Ini bukan sekadar pertunjukan tahunan, tetapi bentuk nyata dari komunikasi budaya,” kata Anjani Sekar Arum, perwakilan kelompok pemuda Bantengan Nuswantara. 

Menurutnya, interaksi dengan komunitas internasional merupakan bagian penting dari visi para pelaku seni muda di Kota Batu untuk menjadikan bantengan sebagai sarana diplomasi budaya.

Semangat kolaborasi terlihat jelas dalam sesi pembukaan saat kelompok pemuda membawa maskot “si buli-buli,” sebuah topeng kepala banteng simbolik, bersama tamu mancanegara dalam prosesi bersama.

“Setiap tahun kami melakukan kolaborasi, mempertemukan kelompok lokal dengan tamu luar negeri untuk merayakan keberagaman dalam kesatuan tradisi,” tambah Anjani.

Meskipun pertunjukan ini meriah, nilai-nilai spiritual dan lokalitas tetap menjadi pijakan utama. 

Sujarwo, pimpinan kelompok seni Putro Selo Aji dari Pujon Lor, menyatakan bahwa keterlibatan mereka adalah komitmen untuk menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. 

“Ada nilai-nilai khusus dalam bantengan yang tidak bisa dijelaskan sembarangan, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kami,” ujarnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, Ice Trisnawati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi bantengan sebagai warisan budaya tak benda sekaligus daya tarik wisata budaya. 

“Ini adalah bentuk konkret pelestarian dan promosi budaya kita ke dunia,” tegasnya.

Sejak pertama kali digelar 17 tahun lalu, Bantengan Nuswantara telah bertransformasi menjadi media pelestarian yang dinamis. 

“Dengan melibatkan seniman lintas generasi dan negara, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya,” tambahnya.

Lebih dari sekadar hiburan, Bantengan Nuswantara kini menjadi panggung persilangan budaya yang menyatukan tradisi lokal dengan jejaring global. Kota Batu semakin kokoh sebagai pusat kebudayaan bantengan di Malang Raya, sekaligus menjadi simpul diplomasi budaya dari Jawa Timur untuk dunia.(gus)*

library_books Agus Susanto